20
Jan
09

Maaf…kawan…

Oke kawan terimakasih atas kunjungan di blog ramakertamukti.wordpress.com, cuman bila mengambil artikelnya jangan lupa nyebutin muasalnya ya…sobat thanks…ram

Wassalam

17
Aug
16

Konsumsi dalam Ruang ONLINE

Konsumsi seringkali diartikan sebagai akhir dari proses produksi, di mana suatu benda akan habis setelah dikonsumsi. Dalam teori artikulasi, produksi dan konsumsi juga elemen lainnya dilihat sebagai relasi dialogis, di mana satu dan yang lainnya saling mendefinisikan satu sama lain. Karl Marx, dalam du Gay et al. (1997: 52), menyatakan bahwa produksi dalam waktu yang bersamaan adalah konsumsi dan sebaliknya. Tanpa produksi, tidak akan ada objek untuk dikonsumsi dan tanpa konsumsi, tidak akan ada subjek bagi produk. Suatu produk tidak akan disebut produk apabila belum dikonsumsi dan konsumsi ada untuk menciptakan “kebutuhan” akan produksi baru. Dalam online shop, fasilitas yang disajikan internet yang memberikan berbagai kemudahan. Kemudahan yang disajikan dalam berbelanja yaitu efisiensi waktu, tanpa harus bertatap muka pelanggan bisa membeli barang yang diinginkan, Perubahan cara belanja dengan menggunakan online shopsedikit banyak menggeser nilai sosial yang semula jika bertransaksi di pasar menggunakan komunikasi secaraverbal dalam bertransaksi, sebaliknya jika berbelaja melalui online shop proses bertransaksinya hanya melalui jaringan internet tanpa bertatap muka sehingga tidak adanya proses tawar menawar atau berkomunikasi verbal. Online shop sama halnya dengan pasar tradisional atau modern yang ada di dunia nyata namun perbedaannya hanyalah pada cara bertransaksi atau proses jual belinya dengan menggunakan jaringan internet. Para pengguna jasa jual beli online ini dapat dengan mudah melihat pilihan barang dan harga yang akan dibelinya. Keunggulan pembelian secara online ini prosesnya dapat dengan mudah di lakukan cukup dengan membuka situs online shop dengan sambungan jaringan internet. Bagaimana gaya hidup online shop dalam menghasilkan identitas bagi konsumen ?

Gaya Hidup

Membentuk dan menampilkan gaya hidup adalah kebutuhan yang sangat dituntut dalam kehidupan modern saat ini. Gaya hidup menjadi sebuah selera yang menampilkan diri pada kehidupan sosial. Dalam dunia Sosiologi, gaya hidup menjadi pintu masuk untuk memahami pengaruh nilai dan norma sosial dalam diri individu (Takwin, 2006:36). Kita dapat memahami fungsi-fungsi budaya dalam diri manusia dengan melihat pola-pola yang terangkai dalam gaya hidup. Bahkan, gaya hidup dapat menemukan makna dan pemaknaan terhadap dunia kehidupan manusia yang dilakukan. Gaya hidup dipandang sebagai pola-pola tingkah laku yang diungkapkan manusia sebagai respon terhadap dunia dan segala hal yang melingkupinya. Bukan hanya sebagai praktik-praktik konsumsi, pertunjukkan benda-benda dan pengalaman seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang di konsepsi sebagai nilai instrumental saja. Estetika realitas melatarbelakangi arti penting gaya hidup (Featherstone, 2008: 204). Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang mengenakannya dan menggambarkan seberapa besar nilai moral orang tersebut dalam masyarakat di sekitarnya. Gaya hidup dikemukakan oleh Plummer, “sebagai cara hidup individu yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya.” (Plummer, 1983: 221). Jadi, gaya hidup dapat dikatakan sebagai suatu pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktifitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya.

Perubahan teknologi komunikasi yang sangat cepat dan mengglobal memberikan perubahan jelas. Perkembangan teknologi berupa internet mempengaruhi tingkat kebutuhan dalam kehidupan berupa perubahan lingkungan sosial, tatanan kehidupan, berubahnya pola hidup. Teknologi ini menghasilkan ekspresi diri. Kondisi lingkungan mendukung untuk mengakses berbagai bentuk inovasi atau perubahan yang ada di lingkungan. Internet memberikan beragam fasilitas yang memudahkan penggunanya untuk mengakses beragam informasi yang diinginkan, dimanjakan oleh beragam fasilitas. Beragam fasilitas yang disajikan dalam teknologi internet, ia memberikan warna baru dalam segi belanja, warna Online shop menjadi salah satunya. Online shopping adalah proses pembelian produk ataupun jasa oleh konsumen melalui media internet Online shopping behavior (also called online buying behavior and Internet shopping or buying behavior) refers to the process of purchasing products or services via the Internet”. (Li and Zhang, 2002)

Kemudahan yang disajikan dalam online adalah efisiensi waktu, tanpa harus bertatap muka pelanggan bisa membeli barang yang diinginkan. Perubahan cara belanja dengan menggunakan online shop sedikit banyak menggeser nilai sosial yang semula jika bertransaksi di pasar menggunakan komunikasi secara verbal dalam bertransaksi, sebaliknya jika berbelaja melaui online shop proses bertransaksinya hanya melalui jaringan internet tanpa bertatap muka sehingga tidak adanya proses tawar menawar atau berkomunikasi verbal. Online shop sama halnya dengan pasar tradisional atau modern yang ada di dunia nyata namun perbedaannya hanyalah pada cara bertransaksi atau proses jual belinya dengan menggunakan jaringan internet. Para pengguna jasa jual beli online ini dapat dengan mudah melihat pilihan barang dan harga yang akan dibelinya. Keunggulan pembelian secara online ini prosesnya dapat dengan mudah di lakukan cukup dengan membuka situs online shop dengan sambungan jaringan internet. Pemenuhan kebutuhan melalui online shop untuk sebagian masyarakat memberikan warna tersendiri. Apakah dengan online shop masyarakat merasa mendapatkan kemudahan yang di tawarkan ataukah hal lain yang membuat mereka memilih cara belanja dengan menggunakan online shop. Apakah hanya pertimbangan geografis dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan sosial yang berada di kawasan yang tidak begitu strategis sehingga online shop menjadi salah satu pilihan untuk pemenuhan kebutuhan ataukah ada hal yang lain yang membuat masyarakat memilih online shop dalam memenuhi kebutuhan.

Penggunaan online shop bagi masyarakat memberikan perubahan belanja yang semula harus berdesak-desakan di pasar menjadi satu hal yang baru dan praktis. Saat ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya namun karena gaya hidup, demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi. Tidak penting apakah barang itu berguna atau tidak, diperlukan atau tidak oleh konsumen. Karena itu yang masyarakat konsumsi adalah makna yang dilekatkan pada barang itu, sehingga tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat menjadi tidak pernah terpuaskan. Menurut Featherstone (Chaney 2006:67) menjelaskan budaya konsumen dibagi ke dalam tiga tipe yaitu pertama, konsumerisme merupakan tahap tertentu kapitalis. Kedua, konsumerisme dan konsumsi merupakan persoalan yang lebih sosiologis mengenai relasi benda-benda dan cara melukiskan status. Praktik konsumsi merupakan strategi untuk menciptakan dan membedakan status sosial. Tipe kedua dari konsumsi ini dapat kita lihat dengan munculnya komunitas pengguna barang tertentu. Dalam kata lain menurut Robert G. Dunn, “Commodity society represents a massive interpenetration of the economic and cultural spheres” (Dunn, 2008: 53). Gaya hidup online dalam aktivitas belanja mempresentasikan realitas tertentu. Daya simbol berperan membuka ruang komunikasi dan intepretasi terhadap tanda-tanda yang disebarkannya (Fashri, 2014: 118).

Dalam aktivitas online shop, belanja secara tidak sadar membentuk impian dan kesadaran semu para konsumen dan melahirkan pola-pola konsumerisme, berbelanja dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Belanja menjadi aktivitas sosial dan suatu saat menjadi kompetisi untuk diri sendiri (memutuskan membeli atau tidak) juga terlebih untuk kompetisi pada teman dan anggota masyarakat yang lain (sebagai simbol status, gengsi, dan image manusia modern dan tidak ketinggalan zaman).

Budaya Online Shop

Teknologi baru seperti halnya internet yang online senantiasa membawa implikasi budaya bagi penggunanya. Budaya atas penggunaan hardware dan aplikasi, bila secara utuh mengenal akan membawa dalam kenyataan yang lebih dalam atas teknologi baru tersebut dibanding ketika hanya memahami sebagian. Pemahaman atas hardware berarti seseorang memahami fisik teknologi tersebut, ibarat handphone, seseorang yang paham hardware berarti dia mengerti setiap aplikasi atau fitur di dalamnya. Tak hanya berhenti memahami secara fisik, mengenal software dalam perspektif ini erat kaitannya dengan memahami nilai-nilai yang diusung oleh media tersebut. Nilai atas presentasi gaya hidup masyarakat dan juga representasi yang dihadirkan atasnya. Padahal, diketahui transformasi internet telah berlangsung dalam tiga gelombang. Joseph R. Dominick mencirikan gelombang pertama sebagai Web 1.0 (1995-2003), pengguna internet pada umumnya menjadi konsumen yang pasif dalam mengonsumsi teks-teks yang sudah disediakan oleh produsen konten, sifatnya statis. Pada Web 2.0, ciri yang kentara adalah pada proses sharing dan kolaborasi. Posisi pengguna dalam hal ini menjadi lebih aktif sebagai produsen konten. Sementara, Web 3.0 dicirikan oleh munculnya media sosial yang dengan segera mengubah rutinitas publik sebagai pengguna media. Online shop merupakan bagian dari e-commerce yang merujuk pada aktivitas bisnis dengan memanfaatkan teknologi komunikasi seperti internet sebagai mediumnya (Meadows, 2008:213). Era e-commerce telah berkembang dan kini menuju ke situasi yang disebut dengan era e-commerce 2.0. Dengan kata lain, e-commerce 2.0 tidak hanya sebatas jual beli secara online, bahkan melibatkan interaksi di media sosial seperti facebook dan twitter. Pemanfaatan media sosial untuk kepentingan bisnis sering disebut dengan istilah social commerce.

Menurut Castells, dalam bukunya The Information Age: Economy, Society, and Culture, munculnya budaya virtualitas nyata. Di era masyarakat informasi, menurut Castells kita akan bisa melihat kemunculan suatu pola yang sama yang berasal dari perkembangan jaringan, fleksibilitas, dan komunikasi simbolis (jaringan komunikasi mediasi-komputer), dalam bentuk budaya yang sebenarnya diatur di sekitar media elektronik. Seperti Online shop, merupakan Jenis ekspresi budaya yang muncul semakin meningkat dan dibentuk oleh dunia media elektronik (Nasrullah, 2012: 68). Stuart Hall dalam   (1997: 596-636) menegaskan bahwa perkembangan era modern kini telah membawa perkembangan baru dan mentransformasikan bentuk-bentuk individualism sebagai tempat di mana konsepsi baru mengenai subjek individu dan bagaimana identitas itu bekerja. Ada transformasi yang terjadi dalam individu modern di mana mereka mencoba untuk melepaskan diri dari tradisi maupun struktur sosial yang selama ini dianggap membelenggu. Sebagai sebuah budaya, Instagram merupakan konteks institusional maupun domestik di mana teknologi ini juga menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna-makna tersendiri dan sebagai sebuah bentuk “metaphorical” yang melibatkan konsep-konsep baru terhadap teknologi dan hubungannya dengan kehidupan sosial (Nasrullah, 2012: 52). Raymond Williams mendefinisikan budaya juga sebagai praktik-praktik penandaan (signifying practices). Budaya merupakan makna bersama, Raymond Williams (1981: 64) berpendapat bahwa kebudayaan dapat dipahami melalui representasi dan praktik kehidupan sehari-hari, yang meliputi analisis atas semua bentuk signifikasi yang berasal dari pengalaman yang dihidupi, yaitu teks, praktik dan makna.

Bahkan lanjutnya, budaya online sebagai suatu jalan hidup spesifik yang dianut baik oleh orang, periode maupun oleh sebuah kelompok tertentu dalam masyarakat. Sebagai sebuah deskripsi dari sebuah jalan hidup partikular, yang mengepresikan makna-makna dan nilai-nilai tertentu bukan hanya seni dan proses belajar, melainkan juga pada institusi-institusi dan perilaku sehari-hari (Budiman, 2006:104) Makna dan praktek tersebut tidak muncul dari arena tersendiri, melainkan secara kolektif. Hall (1997: 2) pun melihat budaya sebagai sistem makna bersama. Ia berpendapat bahwa budaya sebagai sebuah proses, sekumpulan tindakan untuk melakukan produksi dan pertukaran makna, “the giving and taking of meaning”, antar individu di masyarakat atau kelompok. Hall (1997: 3).

Konsumen dapat memberikan perspektif baru mengenai budaya, yang melihat budaya sebagai proses perjuangan melihat dunia dan membuat klaim pada bentuk-bentuk sosial dan material, sebagai kontruksi diri. Konsumen menjadi jalan untuk memahami masyarakat modern. Konsumen memiliki proses ganda, sebagai dimensi kultural ekonomi dan dimensi ekonomi pada benda-benda kultural (Miller, 1998:2). Pertama pemanfaatan benda-benda materi tidak hanya dilihat dari kegunaannya, namun juga sebagai komunikator. Kedua, prinsip-prinsip penawaran, permintaan, akumulasi kapital, kompetisi dan monopoli yang beroperasi dalam ranah hidup, benda-benda kultural dan komoditas. Dalam kajian pola konsumsi ini, definisi konsumsi yang diterjemahkan dari consumption, yang berarti “the act of consuming”, tindakan untuk mengkonsumsi, dapat bermakna memanfaatkan, menggunakan, atau menikmati sesuatu yang bersifat material maupun non material. Komodiatas konsumsi diperlakukan sebagai tanda (signs) yang mempresentasikan konsep, gagasan dan perasaan kita dalam suatu tatanan tertentu untuk dapat dipahami.

Habitus dalam aktivitas shop online

Piliang (2004) mengemukakan bahwa “Habitus berkaitan dengan situasi, aksi, prosedur, praktik-praktik keseharian yang mengikuti jenis dan gaya hidup tertentu” (dalam Ibrahim, 2004: 325). Habitus mencerminkan pembagian objektif dalam struktur kelas seperti menurut umur, jenis kelamin, kelompok, dan kelas sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki, jadi habitus akan berbeda-beda tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial, tak setiap orang sama kebiasaannya, orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial cenderung memiliki kebiasaan yang sama. Dalam pengertian ini habitus dapat pula menjadi fenomena kolektif, habitus memungkinkan orang memahami dunia sosial. Kebiasaan individu tertentu diperoleh melalui pengalaman hidupnya dan mempunyai fungsi tertentu dalam sejarah dunia sosial dimana kebiasaan itu terjadi. Habitus dapat bertahan lama dan dapat pula berubah dalam arti dapat dialihkan dari satu bidang ke bidang yang lain.

Memperhatikan para pengguna online shop dalam mengkonsumsi banyak hal yang dapat diamati. Beberapa narasumber yang menjadi subjek penulisan memperlihatkan bahwa pembelian menggunakan online shop itu mempermudah mereka. Vira, mahasiswi dari Universitas Negeri Islam di Yogyakarta yang berprofesi menjadi model merasakan banyak kemudahan dalam berbelanja online. Vira masih menyukai untuk berjalan-jalan ke mal untuk membeli barang keperluannya. Mal yang ia sukai adalah yang berada di pusat kota, tak sekedar berbelanja ia juga banyak dating ke mal untuk nonton di bioskop yang disediakan di mal tersebut.

 

Daftar Pustaka

Budiman, Hikmat. 2006. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

du Gay P. 1997. Production of Culture, London: Sage in association with Open University.

Dunn, Robert.G. 2008. Identifying Consumption Subjets an Objets in Consumer Society. Philadelphia: Temple University Press.

Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage Publications.

Mackay, Harvey. 1999. Dig Your Well Before You’re Thirsty. Currency Books.

Takwin, Bagus. 2006. Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas. Yogyakarta : Jalasutra.

Fashri, Fauzi. 2014. Pierre Bourdieu Menyingkap Kuasa Simbol. Yogyakarta: Jalasutra.

Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antar Budaya: di Era Budaya Siber. Jakarta: PT. Kencana Prenada Media Group.

Nasrullah, Rulli. 2014. Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia). Jakarta: PT. Kencana Prenada Media Group.

Featherstone, Mike. 2008. Posmodernisme Budaya dan Konsumen. Yogyakarta: Jalasutra.

Plummer,R. 1983. Life Span Development Psychology: Personality and Socialization. New York: Academic Press.

Chaney. (2006). Suatu Bentuk Masyarakat Modern. Jakarta: Kanisius.

Meadows, Donella H. 2008. Thinking in Systems: A Primer. Chelsea Green Publishing: Vermont.

Miller, Daniel. 1998. Shopping, Place and Identity. Newyork : Routledge

Li and Zhang. 2002. Consumer Online Shopping Attitudes and Behavior. Researchgate

21
Mar
16

KOMUNIKASI ANTAR AGAMA DALAM KEARIFAN LOKAL

Indonesia atau Nusantara adalah negara kepulauan terbanyak dan terpanjang di dunia (lebih 17 ribu pulau, jika dibentangkan di benua Eropa jaraknya mulai dari ujung Inggris Raya sampai Turki). Pantainya terpanjang setelah Kanada. Luas daratannya sepertiga (27 persen) dari seluruh wilayah tropis dunia dengan keragaman kekayaan hayati ke dua terbesar setelah Brazil. Posisi geografis-geopolitik Indonesia juga sangat unik dan strategis karena membatasi sekaligus menghubungkan benua Asia dan Australia. Posisinya yang dibelah khatulistiwa sangat menguntungkan karena berkelimpahan cahaya matahari dan curah hujan tinggi. Cincin api (ring of fire) yang mengelilingi wilayah Indonesia menyebabkan kawasan ini berlimpah sumber energi panas bumi gunung volkanik aktif. Kawasan ini juga memiliki kesuburan tanah tinggi.

Kekayaan bumi Indonesia juga sangat luar biasa. Keragaman biodiversity hayati tropis menyimpan kekayaan flora, fauna dan zat hidup lainnya yang sangat berguna bagi kelangsungan peradaban manusia (sumber pangan, pakan, obat-obatan, serat alam, pekerja mikro biologis dan sumber energi terbarukan). Produksi tambang dan mineral yang ada di bumi Indonesia juga sangat mencengangkan. Timah nomor satu di dunia (1), nikel (3), tembaga (5) gas alam (8), Batubara (6), dan emas pada peringkat tujuh dunia ( The Economist, 2008-10). Hasil tambang lain seperti mangan, bauxit, perak, platina, berlian, uranium, biji/pasir besi, pasir kuarsa, bentonit, zeolit, marmer, granit tersebar di sejumlah daerah tapi belum tercatat dalam peringkat dunia. Hasil pertanian tropis juga sangat menakjubkan. Karet terbesar kedua (2), beras dan coklat terbesar ke tiga (3), kopi (4) teh (6), kelapa sawit, pala, lada, kayu manis dan cengkeh peringkat pertama dunia. Indonesia juga menjadi salah satu produsen ikan dan hasil laut tropis terbesar di dunia.

Kekayaan itu seharusnya bisa membuat Indonesia masuk kelompok negara kaya dan rakyatnya masuk golongan berpendapatan sama dengan Malaysia, Thailand atau Brazil. Namun yang terjadi justru makin jauh dari harapan dan cita-cita Indonesia merdeka, masyarakat adil dan makmur. Kesalahan pemilihan strategi-kebijakan ekonomi menyebabkan posisi Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Fakta dan data menunjukkan bahwa 65 tahun setelah merdeka setengah penduduk Indonesia miskin dan pendapatannya kurang dari 2 US $/hari/orang (Basri, 2009) sementara sapi di Eropa mendapat subsidi 2 US $/hari/ekor (Stiglitz, 2002). Menurut para ekonom pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi tetapi The Economist (2010), mencatat pertumbuhan tahun 2007 hanya 5.5 persen, di bawah Iran dan Mesir (6.5 persen dan peringkatnya 54). Cadangan devisanya masuk peringkat 27 (tertinggal jauh dari Thailand, 18; Malaysia, 17; Angola, 15; Brazil, 9 ). Human Development Index (HDI) sangat rendah dan masuk peringkat 111, dibawah Vietnam.

Paradox negara Indonesia kaya tapi utangnya banyak dan 100 juta rakyatnya miskin harus menjadi pertanyaan, pelajaran serta kesadaran bersama. Mengapa tahun 1970 utang Indonesia hanya sekitar 3 milyar US $ tetapi tahun 2010 membengkak menjadi 160 milyar US $ (1500 trilyun dan cicilan utang setiap tahun hampir 200 trilyun rupiah) ?, bahkan data terakhir di tahun 2015 ini utang pemerintah Indonesia berhasil tembus Rp 4.000 triliun lebih, seperti yang diberitakan CNN Indonesia berikut ini : Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah utang luar negeri yang ditarik swasta dan pemerintah pada Juli 2015 sebesar  US$ 303,7 miliar atau mencapai Rp 4.376,3 triliun (kurs terkini Rp 14.410/US$). Angka tersebut turun 3,7 persen dibandingkan dengan posisi bulan yang sama tahun lalu atau year on year (yoy) (http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150920094113-78-79808/bi-total-utang-luar-negeri-ri-rp-4376-triliun-per-juli-2015/, diunduh, Selasa, 17 November 2015 pukul 10.50 wib).

Selain di tinjau dari kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, namun penuh dengan permasalahan terkait pengelolaan yang di rasa belum optimal, Indonesia juga pernah beberapa kali mengalami permasalahan dehumanisasi yakni konflik-konflik internal, baik konflik suku, ras, agama (sara), aliran kepercayaan dan konflik lainnya yang semua ini justru semakin membuat catatan hitam Nusantara tercinta. Apakah hal ini di karenakan belum terciptanya komunikasi humanis secara optimal di antara sesama putra bangsa?

Sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia adalah sebuah bangsa yang komposisi etnisnya sangat beragam. Begitu pula dengan ras, agama, aliran kepercayaan, bahasa, adat istiadat, orientasi kultur kedaerahan serta pandangan hidupnya. Jika diurai lebih terperinci, bangsa Indonesia memiliki talenta, watak, karakter, hobi, tingkat pendidikan, warna kulit, status ekonomi, kelas sosial, pangkat dan kedudukan, varian keberagaman, cita-cita, perspektif, orientasi hidup, loyalitas organisasi, tingkat umur, profesi dan bidang pekerjaan yang berbeda-beda. Tiap-tiap kategori sosial, masing-masing memiliki “budaya” internal sendiri, sehingga berbeda dengan kecenderungan “budaya” internal kategori sosial yang lain. Bila dipetakan secara lebih teoritis, bangsa Indonesia dari segi kultural maupun struktural memantulkan tingkat keragaman yang tinggi (Badan Litbang DEPAG RI, 2003 : 1).

Tingginya pluralisme bangsa Indonesia membuat potensi konflik bangsa Indonesia juga tinggi. Potensi perpecahan dan kesalahpahaman juga tinggi. Baik konflik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Dalam skala kecil, konflik tercermin pada komunikasi yang tidak sambung atau tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan rasa tersinggung, marah, frustasi, kecewa, dongkol, bingung, bertanya-tanya, dll. Sementara itu, konflik dalam skala besar mewujud dalam, misalnya, kerusuhan sosial, kekacauan multibudaya, perseteruan antar ras, etnis dan agama, dll (Badan Litbang DEPAG RI, 2003 : 2).

Sebagai contoh, ada beberapa peristiwa terjadinya konflik sosial bernuansa agama di Indonesia, kasus kerusuhan sosial di Banjarmasin tahun 1997, konflik sosial bernuansa sara berbagai komunitas etnik di Kalimantan Barat, kasus kerusuhan di Mataram Januari 2000, konflik sosial bernuansa agama kasus tentang tragedi kerusuhan Poso, kerusuhan Kupang Nusa Tenggara Timur 30 Nopember 1998, kasus kerusuhan Lampung, kasus kerusuhan Ambon, kasus kerusuhan sara di Palangkaraya, tragedi berdarah di kota Waringin Timur yakni kasus Dayak dan Madura tahun 1999 (Badan Litbang DEPAG RI, 2003 : xiii-xix).

Terkait dengan berbagai peristiwa memilukan yang terjadi di Indonesia/Nusantara, maka segenap putra bangsa harus bersama-sama, bersatu padu buat mencari solusi yang tepat. Terdapat istilah yang sangat ideal yakni “act locally and think globally” (bertindak dan berbuatlah di lingkungan masyarakat sendiri menurut aturan-aturan dan norma-norma tradisi lokal serta berpikir, berhubungan dan berkomunikasilah dengan kelompok lain menurut cita rasa dan standar aturan etika global) (Riyanto, 2013 : vii) sudah mulai muncul ke permukaan sejak dekade delapan puluhan, namun hingga sekarang, seperempat abad kemudian,belum juga kunjung ketemu formula yang jitu tentang hal tersebut.

Pengalaman kemanusiaan merasakan hal-hal yang sebaliknya layaknya berbagai peristiwa sara yang menimpa bangsa, bukannya kedamaian, mutual trust, peaceful coexistence, at-ta’ayus as-silmi, tolerance, tasamuh antar sesama dan antar kelompok umat manusia, tetapi justru kekerasan, violence, prejudice (buruk sangka), su’u az-zan keagamaan, etnisitas, kelas, ras, kepentingan (seperti yang di sampaikan dalam Al-Qur’an Surat al-Hujurat [49] :12), baik di tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional (global). Seolah-olah semua ingin membalik adagium “act and think locally only”, tanpa harus di barengi “think globally” (Riyanto, 2013 : vii).

Di dalam bergaul, berhubungan dan berkomunikasi dengan kelompok lain tak merasa perlu mempertimbangkan dan mengindahkan tata aturan, hukum-hukum, kesepakatan-kesepakatan dan hubungan internasional. Masing-masing kelompok etnis, agama, kelas, kultur ingin mempertahankan, bahkan sekte, mazhab atau aliran pemikiran tertentu ingin mengokohkan dan mempertegas identitas lokal keagamaan, identitas kultural, identitas etnis, identitas politik karena merasa di bawah bayang-bayang ancaman dominasi dan hegemoni kultur, budaya atau peradaban asing tertentu, sedangkan sejak jaman dahulu, pada masa Hindu dan Budha di Jawa Tengah dan DIY sebagai contoh, terutama abad 7 sampai 14 M, leluhur Bangsa Indonesia telah memperlihatkan keragaman kultur, keragaman agama dan keragaman tradisi yang berbeda namun tetap bisa hidup harmonis, berdampingan, menjaga toleransi dengan baik, bahkan tercipta integrasi interkoneksi antar agama Hindu Syiwa dan Budha Mahayana “unity in diversity” yang nampak di beberapa candi dan relief candi, seperti di Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Boko.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Agama RI, Departemen (2003), Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Kehidupan Beragama, Bagian Proyek Peningkatan Pengkajian Kerukunan Hidup Umat Beragama, Seri II Konflik Sosial Bernuansa Agama di Indonesia, Jakarta.

Agama RI, Departemen (2003), Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Kehidupan Beragama, Bagian Proyek Peningkatan Pengkajian Kerukunan Hidup Umat Beragama, Seri II Riuh di Beranda Satu Peta Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, Jakarta.

Kriyantono, Rachmad, Teknik Praktis Riset Komunikasi (2006), Jakarta : Kencana Prenada Media Gruoup.

Pawito, Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif (2007), Yogyakarta : Jala Sutra.

Riyanto, Waryani Fajar (2011) Naga-Ra Atlantis Purba (Replika Ibu Kota Atlantis dan Relief Para Nabi di Candi Borobudur, Relief Al-Qur’an, NKRI Naga-Ra Ke-Satu-An Ind-One-Sia, Menemukan Kembali Atlantis Purba O-ra Hana Jiwa Ka-Jawi Jiwi di Kebumian Indonesia, Yogyakarta : Atlantis Press.

Samovar, Larry A dkk (2010), Komunikasi Lintas Budaya Edisi 7, Jakarta : Salemba Humanika.

21
Mar
16

Persepsi visual membangun Kecerdasan Visual pada Anak-Anak

Kecerdasan memang menjadi konflik yang utama dibidang pembelajaran sehari-hari, baik disekolah maupun dimasyarakat. Kecerdasan juga menjadi hal yang luar biasa untuk menuju suatu kesuksesan. Tetapi jarang sekali para remaja yang mengetahui bahwa setiap orang memiliki suatu kecerdasan. Dan hanya menghabiskan hidupnya untuk berfoya-foya, ngegenk dan nongkrong. Yang sangat bertolak belakang dengan pengembangan kegerdasan yang ia miliki. Dan hanya menilai IQ (intelligence quotient) saja sejagai ujung tombak tingkat kecerdasan seorang anak. Padahal IQ hanya berperan 20 persen saja dari kecerdasan seorang anak. Gsianturi mengatakan “justru anak yang cerdas itu adalah anak yang bisa bereaksi secara logis dan berguna terhadap apa yang dialami di lingkungannya”(dalam jurnal Dinkes, 2010).

Menurut Tabroni dalam pengantar buku Success For Teens mencatat Kesuksesan seorang anak tidak didasarkan pada keturunan, kesuksesan seorang anak tidak bisa dibeli, kesuksesan seorang anak tidak bisa dipesan, kesuksesan seorang anak tidak bisa dipinjamkan. Tetapi kesuksesan seorang anak sangat tergantung pada sejauh mana orang dapat mengoptimalkan potensinya. Menurut Haward Gardner kecerdasan manusia terbagi menjadi 8 kategori yang komprehensif, atau yang lebih dikenal dengan delapan “kecerdasan dasar”. (Roni Tabroni, 2005 :3). Menurut Gardner (1999) seorang penulis buku tentang Multiple Intelligences melihat kecerdasan sebagai kapasitas untuk pemecahan masalah, membentuk produk yang dapat dinilai menurut satu atau lebih setting budaya, yakni; (1) kecerdasan verbal/linguistik, (2) logika matematik, (3) visual/spatial, (4) music/rhythmic, (5) bodi/kinestetik, (6) interpersonal, (7) Intrapersonal, dan naturalis. Kecerdasan Spasial

Sedangkan Kecerdasan Visual-Spasial yang akan kita bahas merupakan kecerdasan yang sering dikaitkan dengan bakat seni, khususnya seni lukis dan seni arsitektur. Menurut Muhamad Yami “Kecerdasan Visual-Spasial atau kecerdasan gambar atau kecerdasan pandang ruang didefinisikan sebagai kemampuan mempresepsi dunia visual-spasial secara akurat serta menstranformasikan persepsi visual-spasial tersebut dalam berbagai bentuk. Kemampuan berpikir Visual-Spasial merupakan kemampuan berpikir dalam bentuk visualisasi, gambar dan bentuk tiga dimensi. Sedang menurut Toni Tabroni kecerdasan spasial adalah kemampuan mempresepsi dunia spasial-visual secara akurat (misalnya, sebagai pemburu, pramuka, pemandu) dan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut (misalnya, decorator interior, arsitek, seniman atau penemu).

Pada anak-anak kita dapat memulai memacu perkembangan kecerdasan visual dengan berbagai rangsangan. Cara Mengembangkan Kecerdasan Visual Spasial
Menurut Sujiono (2010:58) menguraikan bagaimana mengembangkan cara kecerdasan visual spasial pada anak sebagai berikut;

  1. Mencoret-coret, untuk mampu menggambar, anak memulainya dengan mencoret-coret terlebih dahulu. Mencoret biasanya dimulai sejak anak berusia sekitar 18 bulan, tapi pada dasarnya kegiatan mecoret merupakan sarana anak mengekspresikan diri. Meskipun coretannya belum tentu langsung terlihat isi pikirannya. Selain itu kegiatan ini dapat melatih koordinasi tangan-mata anak.
  2. Menggambar dan melukis, kegiatan menggambar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja dengan biaya yang relatif murah. Sediakan alat-alat yang diperlukan, seperti kertas, pensil warna, dan krayon. Biarkan anak melukis atau menggambar apa yang ia inginkan dan sesuai imajinasi dan kreativitasnya. Karena menggambar dan melukis adalah ajang bagi anak untuk mengekspresikan diri.
  3. Kegiatan membuat prakarya atau kerajinan tangan menuntut kemampuan anak memanipulasi bahan. Kreativitas dan imajinasi anakpun terlatih karenanya. Selain itu kerajinan tangan dapat membangun kepercayaan diri anak.
  4. Mengunjungi berbagai tempat, dapat memperkaya pengalamanvisual spasial anak. Seperti mengajaknya ke kuseum, kebun binatang, menempuh perjalanan alam lainnya.
  5. Melakukan permainan konstrutif dan kreatif, sejumlah permainan seperti membangun konstruksi dengan mengunakan balok, puzzle, permainan rumah-ruamahan, atau peralatan video, film, peta, atau gambar.
  6. Mengatur dan merancang, kejelian anak untuk mengatur dan merancang juga dapat diasah dengan mengajaknya dalam kegiatan mengatur ruang dirumah. Seperti ikut menata kamar tidurnya. Kegiatan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak bahwa ia mampu memutuskan sesuatu.
  7. Pengenalan informasi visual, informasi visual mengacu pada pesan pengetahuan yang dituangkan dalam bentuk nonverbal. Pesan pengetahuan disampaikan dalam bentuk grafik/ diagram dan denah.

Indikator kecerdasan visual spasial anak usia dini
Kecerdasan visual spasial muncul pada masa kanak-kanak. Anak-anak yang cerdas dalam visual spasial peka terhadap bentuk dan peristiwa, mampu merekam bentuk-bentuk tersebut dalam memorinya, serta memanggilnya sebutan bentuk melamun, menggambar atau menyatakan dalam kata-kata.

Daftar Pustaka

Kertamukti, Rama. 2014. Komunikasi Visual. Yogyakarta. Penerbit Galuh

 

Roni Tabroni. 2010. Success For Teens Jakarta : Penerbit Rohim Agency.

 

Aisyah, Siti. Dkk. 2009. Pembelajaran Terpadu. Jakarta : Universitas Terbuka.

Gunarti, Winda. Lilis Suryani. Azizah Muis. 2010. Metode Pengembangan Perilaku Dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta : Universitas Terbuka.

Samsudin. 2008. Pembelajaran Motorik Di Taman Kanak-kanak. Jakarta : Litera Prenada Media Group.

Sujiono, Yuliani Nuraini. Bambang Sujiono. 2010.Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak. Jakarta : PT Indeks.

Liniawati. 2013. Upaya Meningkatkan Kecerdasan Visual Spasial Melalui Alat Permainan Edukatif “Maze”. Semarang : Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan PGRI.

 

 

 

 

 

 

15
Jan
15

Mr. Mahasiswa

jangan cengeng ah jadi mahasiswa…hanya ndak punya laptop…tugas demi tugas kau lenakan…nggak punya tablet kau anggap engga gaul….engga bisa BBM karena nggak punya bunuh kreativitas….engga punya android serasa ngga punya diktat…. dulu memang jaman dulu tetapi dulu memberikan pengalaman berharga bagi kita….

Seingat saya dulu seorang mahasiswa punya tekad besar untuk datang ke perpustakaan bahkan perpus itu layaknya sebuah shopping centre, indah-bermakna- dan pastinya sulit kita memiliki buku sedemikian banyaknya.Cengeng benar menjadi mahasiswa sekarang, jaman kau ingin rubah tetapi kau hanya suka berebah… duduk di warung kopi bercerita ingin mengubah dunia dengan sebungkus rokok dan secangkir kopi pahit…. angkatlah kau punya bahu dan lengan tulislah apa yang ada dalam pikiranmu tebarkan analisa dan persepsi dan penemuanmu… bukan mengujuk gigi dengan ampas kopi….

14
Jan
15

Iklan : Kreativitas yang mengungkap Masa Depan

Berkarier di bidang Periklanan adalah sebuah karier yang unik, antara seni dan teori berkaitan disana. Seseorang menyukai karya sebuah iklan, bukanlah sebuah persoalan sederhana dalam mengartikannya. Kehidupan menggali ide kreatif selalu harus ada dalam berkarier di periklanan. Ada seorang teman dari sebuah radio terkenal di Yogyakarta, dia bertanggungjawab penuh dalam pengelolaan program siaran diradionya, pernah bertanya pada saya. “Apa sih maksudnya kreatif itu? Berkali-kali saya suruh penyiar saya untuk kreatif tetapi mereka bingung siaran yang kreatif itu bagaimana”. Kreatif-kreatif apa sih kreatif, kalau kata guyon mataraman sih kere sing aktif…ya ndak? Kreatif sih menurut saya adalah create yang aktif. Kita selalu disibukkan dengan kegiatan yang kita bisa dan dapat menghibur orang lain, dan harus selalu fresh! Ya…Fresh, gimana rasanya roti yang baru keluar dari oven, baunya, warnanya memikat bukan?

Ada hal yang mendasar orang bisa disebut bekerja secara kreatif, dia selalu melakukan atau percaya pada intuisi. Pada dasarnya tiap manusia memiliki intuisi, dia selalu dapat menduga memprediksi apa yang seharusnya dia lakukan, cuman kita seringkali tidak mau mendapat resiko dari prediksi kita. Kita cuman mau diwilayah aman-aman saja (safe zone) yang penting untung dan jalan, payah! Resiko selalu kita hindari, kalau perlu kita jauhi jangan mendekat dari kehidupan kita. Di Indonesia pekerjaan PNS menjadi idola bagi beberapa (mayoritas sih kalau mau diomongin) orang, karena dari segi nyaman, wuih! nyaman banget, kerja nggak kerja dapat gaji, nanti tua langsung dapat pensiun, nyaman banget ya? Di dunia periklanan mau kerja gini ya tidak akan pernah ketemu kita.

Di dunia iklan kita dididik menjadi penerjemah mimpi seseorang, lebih dekatnya sih Target Audience kita, kita lebih mengerti mereka dibanding mereka sendiri, hebat coba! Kalau kita cuman menunggu mereka pengen apa ya masalah, karya kita enggak pernah diterima mereka, tapi ya cuman itu, pendekatan kita harus selalu personal and emotional oriented. Hasilnya Target audience kita senang…kita ya pastinya senang juga, iya enggak sih. Dalam buku Inside the Minds: The Art of Advertising, karangan Joe Grimaldi CEOs from BBDO. Dikemukakan banyak hal mengenai kegiatan kreatif, intinya adalah ekploitasi kegilaan kita mengenai estetika kesukaan Target audience, ilmu tentang tetek bengek periklanan kita peras habis-habisan dan disiplin…bisa enggak disiplin? Menggapai masa depan bukan hil yang mustahal kok! Sadarlah, mimpi itu dekat dengan kita, hari ini hujan tidak? kita pasti bisa jawab dengan apa? Ya…melihat tanda-tanda cuacakan, kita menjawab hujan atau tidak bukan menunggu kita kehujanankan, konyol! Bila kita ingin menggapai apa yang disukai target audience, ya…pelajarilah kesukaan Target Audience dengan sisi emosional mereka, kita sedang mempelajari tanda-tanda dari mereka. Nah, itulah iklan, kita di dunia periklanan. Bahasa konotatif, bo!

Periklanan membutuhkan orang-orang yang ingin memetik masa depan untuk sebuah entertainment dunia. Iklan seharusnya menghibur, walau menjual itu harus. Tetapi unsur menghibur adalah hal yang harus menjadi unsur yang tak terlupakan. Kreatif is unimpossible kok, jadilah diri kita menggapai masa depan, selalu berpikir kearah depan, jangan nunggu…emang bis. Banyak temen-temen mahasiswa bertanya pada saya, kreatif itu kita harus ngapain? Kalo udah membaca awal tulisan ini ya. Pertama ambil pena atau pinsil, pengen apa kamu untuk memajukan dirimu di dunia iklan ini dan lakukan setelah menulis itu, bukan cuman disimpan dibawah bantal. Bisa? Dan yang kedua, ketiga, keempat? Enggak ada…just do it!

14
Jan
15

My prosa

Waktu menunjukkan pukul 03.30, menanti subuh datang. Hmmm… menjelang subuh adalah waktu dimana sang Khalik menunggu kita didepan pintunya, karena subuh adalah waktu para ksatria bumi bergerak memegang janji untuk mengolah ciptaan Sang Khalik. Dalam renungan menjelang subuh sering kita terpuruk mengingat masa lalu ataupun membuat rencana menghadapi keesokan hari.Tetapi ketika subuh kita sering terlupakan atas pengingatan kita ketika menjelang subuh. Di rumahku ketika menjelang subuh, aku melihat banyak sepeda mulai beriringan menuju pasar, sepertinya mereka santai dalam berperilaku. Dua tiga empat sepeda beriringan dan mereka saling bercakap diatas sepeda membicarakan aktivitas yang nantinya akan mereka lakukan, mereka bercerita dari harga cabe yang melangit hingga Gayus yang super dupper kaya……dan tidak mungkin mereka mencapai seperti itu… Continue reading ‘My prosa’

13
Jan
15

Kamu segalaNya…takkan terhapus oleh waktu

menjaring waktu seperti halnya menyapu kesia-siaan. Seringkita mengharapkan takdir menghampiri kita bukan takdir itu kita buat. Saya seorang dosen seringkali sadar tidak sadar mengolah masa lampau yang merasakan bahwa profesi saat ini bukanlah cita-cita yang diharapkan, tapi apalah kita kalau kita tidak menerima ketentuanNya dan mencintaiNya. Kamu segalanya ya Robb…seringkali aku berdusta padaMu tetapi engkau selalu memberikan kerahmatanMu dan selalu memberikan maaf dan waktu untuk berubah. Waktu itu rahasia dan serahasia itulah kamu dengan takdirmu, bergeraklah untuk menjangkau takdir bukan kita hanya menunggu layaknya cicak.




sohibrama@gmail.com

soekarno falls

More Photos
Internet Sehat

Pengunjung

  • 204,539 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

September 2016
M T W T F S S
« Aug    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS media ide periklanan

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita indonesia

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile

RSS bola

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS inggris

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id