Author Archive for kawan kertamukti

15
Sep
19

EDFAT

FOTOGRAFI JURNALISTIK Salah satu cara untuk menyampaikan informasi, tetapi tidak begitu saja sebagai foto berita dan tidak harus diberitakan di media massa. MENGAPA? Foto berita biasanya dibuat berdasarkan penugasan dari sebuah media massa. Foto jurnalistik tidak harus ada penugasan.

Source: Biodata: Nama : Pamungkas Wahyu Setiyanto, M.Sn. Alamat – ppt download

03
Dec
18

Mazhab dalam Filsafat

        Dalam realitasnya, filsafat terbagai ke dalam beberapa mazhab. Kemunculan mazhab ini terutama berada di abad pertengahan sebagai konsekuensi dari munculnya golongan-golongan pemikir yang sepaham dengan teori, ajaran, bahkan aliran tertentu terhadap tokoh-tokoh filsafat atau filsuf. Mazhab-mazhab dalam filsafat terbagai atas rasionalisme, positivisme, empirisme, idealisme, pragmatisme, fenomenologi, dan eksistensialisme. Rasionalisme muncul pada abad ke-17 dan tokoh yang dikenal dalam mazhab ini adalah Rene Descrates (1596-1650) yang memopulerkan ungkapan cogito ergo sum yang berarti aku berpikir maka aku ada. Menurut Descrates, manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak oleh karena itu manusia dapat merealisasikan kebebasannya tersebut dan kebebasanlah yang merupakan cirri khas kesadaran manusia yang berpikir. Mazhab ini menekankan metode filsafatnya pada rasionalitas dan sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio atau akal. Metode deduktif menjadi metode yang popular dalam mazhab ini. Metode tersebut menggunakan pola penalaran dengan mengambil kesimpulan dari suatu yang umum untuk diterapkan kepada hal-hal yang khusus.

       Empirisme  merupakan mazhab yang menekankan pada pengalaman nyata atau empiris yang menjadi sumber dari segala pengetahuan. Bahwa sebuah pengalaman yang khusus merupakan kesimpulan dari kebenaran-kebenaran yang bersifat umum. Ini merupakan kebalikan dari mazhab rasionalisme, seiring pula kemunculan mazhab empirisme pada abad yang sama dengan rasionalisme. Tokoh yang terkenal dalam mazhab ini adalah Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Menurut kedua tokoh ini, pengalaman adalah awal dari semua pengetahuan dan dapat memberikan kepastian. Pengalaman ini bisa berupa pengalaman lahiriah maupun batin yang keduanya saling berhubungan. Pengalaman lahiriah menghasilkan gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengalaman batiniah.

        Idealisme merupakan istilah yang digunakan oleh Leibniz pada abd ke-18. Merujuk pada pemikiran Plato bahwa idealisme memfokuskan pemikiran bahwa seluruh realitas itu bersifat spiritual atau psikis, dan materi yang bersifat fisik sebenarnya tidaklah nyata. Pemikiran ini didukung oleh George Wilhem Friederch Hegel (1770-1831) di Jerman yang memiliki pendapat bahwa yang mutlak adalah roh yang mengungkapkan dirinya di dalam alam dengan maksud agar dapat sadar akan dirinya sendiri dan hakikat dari roh itu adalah idea tau pikiran. Menurut Hegel, semuanya yang real bersifat rasional dan semuanya yang rasional bersifat real. Metode dialektik diperkenalkan oleh Hegel dengan menerapkan tiga proses dialektik, yaitu teas, antitesa, dan sintesa dimana ia mengusahakan kompromi antara beberapa pendapat yang berlawanan satu sama lainnya.

       Positivisme merupakan mazhab yang menekankan pemikiran pada apa yang telah diketahui, yang faktual, nyata, dan apa adanya. Postivis mengandalkan pada pengalaman individu yang tampak dan dirasakan dengan pancaindera. Sehingga segala sesuatunya yang bersifat abstrak atau metafisik tidak diakui. August Comte (1798-1857) merupakan tokoh mazhab ini yang menyatakan bahwa manusia tidak mencari penyebab yang berada di belakang fakta dan dengan menggunakan rasionya manusia berusaha menetapkan relasi-relasi antarfakta.

      Pragmatisme muncul pada awal abd ke-20. Mazhab ini menegaskah bahwa segala sesuatunya haruslah bernilai benar apabila membawa manfaat secara praktis bagi manusia. Artinya, pengetahuan yang berasal dari pengalaman, rasio, pengamatan, kesadaran lahiriah maupun batiniah, bahkan yang bersifat abstrak atau mistis pun akan diterima menjadi sebuah kebenaran apabila membawa manfaat praktis. John Dewey (1859-1852) merupakan tokoh dalam mazhab ini yang berpendapat bahwa filsafat tidak boleh hanya mengandalkan pemikiran metafisis yang tidak bermanfaat praktis bagi manusia, melainkan harus berpijak pada pengalaman yang diolah secafa aktif kritis dan memberikan pengarahan bagi perbuatan manusia dalam kehidupan nyata.

        Fenomenologi  merupakan mazhab yang bersandar pada kemunculan fenomena-fenomena baik yang nyata maupun semu. Fenomena tidak hanya bisa dirasakan oleh indera, juga dapat digapai tanpa menggunakan indera. Tokoh dalam mazhab ini adalah Edmund Husserl (1859-1938) yang menegaskan hukum-hukum logika yang memberi kepastian sebagai hasil pengalaman bersifat a priori dan bukan bersifat a posteriori. Eksistensialisme dipelopori oleh Jean Paul Sartre (1905-1980) yang mengembangkan pemikiran bahwa filsafat berpangkal dari realitas yang ada dan manusia itu memiliki hubungan dengan keberadaannya dan bertanggung jawab atas keberadaan tersebut. Mazhab ini menekankan pada bagaimana cara manusia berada di dunia yang berbeda dengan benda-benda atau objek lainnya. Dengan kata lain, eksistensialisme menegaskan tentang bagaimana cara manusia bereksistensi dan bukan sekadar hanya berada sebagai mana benda-benda lainnya.

ide by.kang irul

21
Feb
18

Media Alert! : Bagi Kejahatan Seksual Anak

Isu kekerasan seksual yang mengemuka akhir-akhir ini sangat mencemaskan semua pihak. Orangtua, kalangan pendidik, masyarakat, bahkan pemerintah merasa Indonesia sudah dalam darurat kejahatan seksual. Merunut maraknya kasus seksual di Indonesia, kasus yang ,menjadi perhatian adalah yang menjadi korban kebanyakan anak-anak di bawah umur. Masyarakat resah mengharapkan pemerintah lekas memberikan perhatian solusi atas kasus yang terjadi. Anggota Komisi VIII DPR RI, Kuswiyanto menilai bahwa pemerintah harus menetapkan Indonesia sebagai darurat kejahatan seksual anak. Melalui penetapan status tersebut diharapkan pemerintah melakukan pengorganisiran lintas sektor. Kementerian terkait, seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Menteri Sosial (Mensos), dan Menteri Agama (Menag), harus bersama-sama melakukan tindakan penanggulangan masalah tersebut. Menurut Catatan Tahunan 2016 Komnas Perempuan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada di peringkat kedua, dengan jumlah kasus mencapai 2.399 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18% dan sementara pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).

Pemicu kekerasan seksual oleh dan terhadap anak yang marak memang banyak dipengaruhi beberapa faktor. Pemicunya dapat berasal dari peredaran minuman keras, lingkungan yang tak layak, dan juga yang sangat mengkhawatirkan mudahnya mengakses konten pornografi di media internet melalui berbagai gadget. Mengakses internet pada dewasa ini tidaklah terlalu sulit. Berbeda sekali bila membeli minuman keras yang harus mengeluarkan beberapa rupiah yang agak besar jumlahnya dan pembeliannya pun dibatasi dengan berbagai aturan, begitu juga faktor lingkungan yang tak layak masih banyak pihak yang bisa mengawasi untuk tidak terlampau keblablasan. Tapi dalam dunia internet, konten pornografi dapat diakses dengan menyendiri di ruang-ruang yang tak terawasi oleh orang-orang di sekitarnya tanpa terinterupsi. Ruang internet bersifat cair (fluid), mengikuti ruang dan cara berpikir pengaksesnya dan menciptakan budaya ketika menggunakannya. Bahkan sangat berbahaya dalam budaya internet, bila anak-anak yang mengakses konten pornografi merasa berada dalam ruang “simulasi” yang dianggap nyata, dan mereka menjadi kecanduan di dunia internet yang begitu intraktif dan menghibur. Anak-anak akan menjadi bagian “society” dari konten pornografi, karena pengalaman anak-anak yang kurang. Mereka tidak mempunyai penyaring yang cukup, hingga sulit membedakan konten yang baik dan buruk. Padahal pernah terungkap oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise, ketika menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menutup situs-situs pornografi. Terungkap bahwa para predator yang ditemui di penjara mengaku terpengaruh dari situs-situs pornografi ketika melakukan kekerasan seksual. Jadi, sebenarnya Indonesia darurat kebijakan konten pornografi, karena aturan yang ada tidak cukup untuk menahan laju teknologi komunikasi dengan segala kontennya yang tak diharapkan, tidak cukup hanya memblokir beberapa situs karena satu ditutup ribuan dibuat karena secara teknis begitu mudahnya membuat situs dan segala kontennya dengan variasi alamat situs.

Saat ini, ketika kita menikmati televisi pada saat program entertainment atau film di putar, ada efek blurring pada anggota tubuh yang dirasa menampilkan “efek sensual”, hingga binatang pun diberi efek seperti itu bila dianggap merangsang, terasa sangat protektif sekali dalam menyensor tayangan. Kita sangat begitu protektif dengan tayangan televisi, tetapi lupa ada media baru (new media) yang kontennya begitu dahsyat tak terbendung, dan seharusnya ada kebijakan penyensoran. Tetapi mengapa pemerintah tidak memperhatikan secara serius perkembangan teknologi ini, khususnya internet dengan situs-situs yang berkonten pornografi dengan lebih peka. Padahal aturan hukum di Indonesia tentang pornografi cukuplah memadai (Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2011 tentang Pembinaan, Pendampingan dan Pemulihan terhadap Anak yang Menjadi Korban atau Pelaku Pornografi, Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2012 tentang Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi). Pemerintah haruslah sangat sadar, pornografi mudah diakses karena menggunakan media yang mudah dijumpai dan sangat pribadi. Teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat  begitu juga muatan pornografi, ia dengan mudah dan murah tersebar secara massif di masyarakat, bisa diakses oleh siapapun termasuk anak-anak. Media bukan hanya koran, majalah, televisi ataupun radio, namun juga gadget dengan media baru yang berbasis internet. Oleh sebab maraknya aksi penyebaran pornografi ini sudah memasuki wilayah “darurat”, semestinya pemerintah, terutama pemerintah daerah berkewajiban untuk melalukan pencegahan dan penanggulangan pornografi secara serius. Alert Media!

21
Feb
18

Berita Hoax dan Literasi dalam Media Sosial

Media siber berkembang sangat pesat di Indonesia tetapi tidak dengan literasi budaya medianya. Pola konsumsi media siber dalam aktivitas media sosial yang sangat mudah diakses di piranti digital masyarakat Indonesia peningkatan dari tahun ke tahun sangatlah tinggi. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), mengungkap dalam survey yang dilakukan bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Survei yang dilakukan sepanjang 2016 itu menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 256,2 juta orang. Bila melihat data tersebut dapat dipastikan pengguna internet mengakses media siber sangatlah tinggi. Dalam survey tersebut diurai bahwa 67,2 juta orang atau 50,7 persen mengakses melalui perangkat genggam dan komputer. 63,1 juta orang atau 47,6 persen mengakses dari smartphone. 2,2 juta orang atau 1,7 persen mengakses melalui komputer.

Jadi ditilik dengan kemudahan masyarakat Indonesia dalam mengakses media siber dapat diambil asumsi sederhana bahwa masyarakat akan mudah juga berpartisipasi dalam berbagi informasi di media siber. Media sosial sebagai alat berbagi informasi menjadi media yang popular di pengguna internet. Didukung dengan kemudahan copy dan paste, unggah, unduh, dan menautkan informasi ke teman di media sosial menjadikan media sosial bagian dari kehidupan pengguna internet di Indonesia. Bahkan para pengguna internet memiliki beberapa akun di berbagai media sosial yang ada, dari facebook, instagram, path, twitter, dan berbagai media sosial lainnya. Jadi tak dapat dipungkiri, Internet adalah teknologi yang saat ini paling banyak dimanfaatkan oleh manusia secara luas dan tidak dibatasi oleh usia, gender, dan topologi geografis. Berbagai aktivitas manusia sekarang ini hampir semuanya ditopang dengan keberadaan internet.

Marshall McLuhan pakar komunikasi dari Kanada mengingatkan dalam tulisannya di The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat, dan teknologi tersebut mengarahkan manusia bergerak dari satu abad teknologi ke teknologi yang lain. Menurut Don Ihde dalam filsafat teknologi (Francis Lim: 2008), ihde memberi penekanan bahwa teknologi tidaklah netral, teknologi sebagai mediator antara manusia dan dunianya, mengubah pengalaman manusia mengenai dunia (perspektif). Manusia dapat menggunakan teknologi sebagai sarana kekuasaan untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu. Kasus kabar bohong atau Hoax sebagian efek hasil dari mudahnya teknologi menghasilkan dan membagi informasi ke segala arah. Dengan kekuatan akses jaringannya teknologi internet dalam hal ini media sosial, seseorang sangat mudah menghasilkan informasi tanpa ada redaksional terlebih dahulu seperti media konvesional sebelumnya (TV, Koran, radio, dll). Hoax adalah Hoax adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjukan pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu. Hoax yang aslinya adalah bahasa Latin “hoc est corpus”, artinya “ini adalah tubuh”. Kata ini biasa digunakan penyihir utk mengklaim bahwa sesuatu adalah benar, padahal belum tentu benar. Sejarah Hoax dimulai pada abad VII di Eropa, pada era kegelapan budaya di Eropa, dan mulai berkembang kembali di era internet berkembang. Karena di dunia siber, informasi dapat diolah dan dihasilkan oleh siapapun, maka Hoax menjadi subur. Dengan keinginan, kebutuhan akan tujuan tertentu, informasi direkayasa dan ditutupi dari informasi yang sebenarnya. Berita Hoax dapat menjadi cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat kita di Indonesia seperti isu yang berkembang sekarang. Kasus yang terjadi dewasa ini, berita-berita Hoax yang berseliweran di media sosial dan karena kemudahan berbagi cukup dengan tekan, di bagi oleh para pengguna akun tanpa melihat kebenaran dan validitas informasi yang isi informasi tersebut dapat menciptakan disintegrasi bangsa, karena berita hoax menghasilkan isu SARA didalamnya.

Untuk itulah kepedulian para pengguna media sosial akan berita yang tidak seharusnya mereka sebar menjadi sebuah poin yang penting, dan literasi media menjadi hal yang seharusnya dimiliki para pengguna media sosial di dunia siber. Ada beberapa poin untuk para pengguna media sosial dalam mengenali berita hoax sebelum mereka berbagi dalam jaringannya; pertama, berita Hoax cenderung berjudul provokatif, kemudian perhatikan link sumber situs atau penulis yang menghasilkan, selanjutnya bedakan opini dan fakta, cek foto yang dilampirkan dengan google image. Karena jangan sampai dengan kesalahan tekan para pengguna akun terjerat pasal menebar informasi yang menyesatkan, menghasut dan bohong yang mengakibatkan pengguna media sosial dijerat hukuman paling lama enam tahun penjara atau denda paling banyak satu miliar rupiah (UU No.11/ 2008), hanya karena tekan dan berbagi berita Hoax.

 

21
Feb
18

Anak dan Games Online

Bermain dalam dunia internet saat ini sepertinya menjadi masyarakat kekinian. Dunia internet dengan mudah diakses dengan gadget, dan bila ingin merasakan tampilan gambar yang lebih besar dapat menggunakan laptop, personal computer dengan akses wifi yang disediakan. Bahkan untuk lebih murah bisa mengakses di warnet dekat dengan pemukiman yang sering kita temui. Tarif untuk akses ke dalam dunia internet di warnet sangatlah terjangkau, bahkan usaha ini menawarkan tarif yang sangat diluar tarif pada umumnya dengan paket happy hours, akses dua jam mereka akan menambahkan satu jam untuk akses berikutnya hingga para pengakses dunia internet seperti dimanjakan hingga berlama-lama di depan monitor.

Dunia internet menawarkan banyak kenikmatan para pengaksesnya, lebih hebat dari televisi yang seringkali dikhawatirkan para pengamat media. Di kurun tahun 90-an, di Amerika Serikat dunia internet telah mencabut keharmonisan ruang tengah masyarakat Amerika. Di ruang tengah atau biasanya kita sebut ruang keluarga, biasanya masyarakat di sana menonton televisi dan membahas apapun yang mereka hadapi sehari-hari. Tetapi semenjak adanya dunia internet, kehidupan menjadi individualis, menciptakan anggota keluarga terpisah dari ruang keluarga, dunia internet yang difasilitasi personal computer meninggalkan ruang tengah dan menciptakan ruang-ruang lebih individu seperti di kamar pribadi ataupun ruang bawah tanah untuk anggota keluarga mengakses dunia internet. Anak-anak dan remaja menjadi anggota keluarga yang menghilang dari ruang tengah, sibuk dengan dunia kotak monitor yang difasilitasi internet.

Di Indonesia, hasil penelitian mengenai Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia yang dilakukan Kominfo di tahun 2014 menunjukkan setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Ada aktivitas turunan dalam penggunaan media digital ini yang cukup mengkhawatirkan dalam perilaku sosial si pengguna, khususnya anak-anak. Anak- anak sebagai bagian dari 103 Juta pengguna internet di Indonesia (eMarketer.com, 2015), menghabiskan waktunya di internet dengan mengakses games online.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang biasanya anak-anak menghabiskan waktunya dengan games untuk menunggu waktu berbuka tiba, maka biasanya anak-anak mengakses games online di internet. Aktivitas ini lah yang sangat mengkhawatirkan. Games online menawarkan simulasi realita yang dapat mengikat mereka ketika bermain. Mereka menjadi mahluk sosial di depan layar yang saling berinteraksi dengan layar lainnya saling terkoneksi dalam bermain bersama. Para pengamat seringkali salah mengartikan mereka yang bermain games online sebagai mahluk yang anti sosial, tetapi mereka sebenarnya sedang bersosialisasi dalam sebuah “networking” (saling tersambung dengan komputer lainnya. Istilah penulis sebagai “alternative to society” menggantikan “real society”. Hubungan sesungguhnya menjadi terabaikan, mereka sibuk dengan simulasi dunia yang ditawarkan dan mereka masuk ke dalamnya. Banyak anak-anak yang menjadi korban dalam aktivitas games online ini dari berjam-jam hingga berhari-hari menghabiskan waktunya di layar monitor. Efeknya hubungan dengan orang tua merenggang, dengan sekolah seringkali anak-anak membolos demi aktivitas mereka. Anak-anak bila dibiarkan beraktivitas tanpa bimbingan di dunia games online (bahkan kontennya banyak berbau pornografi dan kekerasan), maka akan sukar orangtua untuk menyadarkan mereka. Ini menjadi menjadi masalah serius bagi orangtua. Contoh, perhatikan bila malam hari di berbagai warnet yang menyediakan games online, siapa pengaksesnya mereka kebanyakan anak-anak.

Games online adalah masalah tersendiri dalam perkembangan teknologi komunikasi yang orangtua di Indonesia belum siap menghadapinya. Orangtua masih menganggap dunia internet sebagai kemajuan jaman yang tidak perlu dikhawatirkan bagi anak-anak mereka. Ada cara untuk menghadapi anak-anak yang mulai beraktivitas atau kecanduan games online. Pertama, susun jadwal aktivitas anak pengganti games. Seperti, olahraga, seni dan aktivitas lainnya. Kedua, jauhkan peralatan dan software games secara bertahap minimal perhatikan komputer atau perangkat game online lainnya di ruang terbuka. Bukan di kamar anak. Terakhir, jangan kenalkan games kepada anak di bawah usia delapan tahun, kecuali permainan edukatif.

 

26
Apr
17

Profetik Jurnal Komunikasi

Komunikasi PROFETIK merupakan istilah baru dalam khazanah ilmu komunikasi, yang mengacu pada pola komunikasi kenabian Rasulullah Muhammad saw yang sarat dengan kandungan nilai dan etika. Komunikasi profetik merupakan kerangka baru praktik ilmu komunikasi dalam perspektif lslam yang terintegrasi-terintegrasi dengan kajian ilmu komunikasi yang sudah berkembang sebelumnya.

Jurnal Komunikasi PROFETIK  adalah Jurnal Ilmu Komunikasi, mengkaji perubahan sosial budaya yang terjadi di era digital menjadi kehidupan berkomunikasi menjadi lebih berwarna. Teori-teori komunikasi mengalir menerjemahkan bahasa fenomena yang terjadi di masyarakat. Teori hadir karena observasi manusia akan sesuatu dan ingin memaknai, dan dirumuskan, dihadirkan sebagai cara sederhana memaknai kehidupan. pengembangan menjadi sederhana lagi untuk dipahami. Teori berfungsi sebagai penjaga pada asumsi-asumsi agar mudah didokumentasikan, teori adalah cara peneguhan ilmu pengetahuan yang terobservasi. Jurnal Komunikasi Profetik yang dihadirkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini ingin menghadirkan peneguhan atas teori-teori yang hadir dalam studi Ilmu Komunikasi, agar menghasilkan keyakinan yang dapat dipercayai dalam masyarakat. Peneguhan atas akademis, praktisi-profesional, bahkan penulis jurnal sendiri agar teori komunikasi berkembang dan dapat digunakan membedah fenomena.

Jurnal Komunikasi PROFETIK terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober, sebagai jurnal ilmu komunikasi. Berisi tulisan yang diringkas dari hasil penelitian dan pemikiran konseptual di bidang komunikasi . Terbit dalam versi: cetak dan elektronik. Versi cetak dijual dengan harga tertentu. Untuk pembelian dan berlangganan silakan menghubungi Redaksi dan Distribusi Jl. Marsda Adisucipto No.1 Telp (0274)589621. Untuk versi elektronik (PDF) bisa diakses secara terbuka dan gratis tanpa harus berlangganan. Akses yang terbuka ini diharapkan akan meningkatkan keterbacaan dan meningkatkan sitasi karya-karya penulis.

Bahasa utama yang digunakan dalam penulisan artikel adalah Bahasa Indonesia meski tidak menutup kemungkinan artikel dalam Bahasa Inggris.

Profetik Jurnal Komunikasi examines socio-cultural changes, occurring in the digital age into life become more colorful communicate. Theories of communication flows translating phenomena that occur in the community. The theory  observation of human will be present phenomena to interpret, and formulated. presented as a simple way to make sense of life.

alamat Profetik Jurnal Komunikasi: http://ejournal.uin-suka.ac.id/isoshum/profetik/index

ojs

02
Mar
17

Menjadi Seseorang

Ketika kita hidup merasa bukan siapa-siapa, artinya memang kita bukan siapa-siapa. Allah sedang berbincang dengan kita untuk mengerti bahwa Dia lah pemilik kita. Kita merasa harus tergantung dengan seseorang sebenarnya diri kita sedang terbuai dengan artinya kenyamanan palsu, ketika kita hilang, kita akan merasa “down”.

Menjadi seseorang adalah menjadi orang yang bisa berbagi dan menghargai orang lain, ketika seseorang merasa tersakiti oleh kita, bukan kita mebicarakan kejelekan dia, karena seberapa kejelekan yang kita bongkar atas dia, sebegitulah keburukan diri kita atas diri kita sendiri.




sohibrama@gmail.com

Internet Sehat

Pengunjung

  • 331,126 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

September 2019
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS Advertising Age

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id