Author Archive for rama kertamukti

21
Feb
18

Media Alert! : Bagi Kejahatan Seksual Anak

Isu kekerasan seksual yang mengemuka akhir-akhir ini sangat mencemaskan semua pihak. Orangtua, kalangan pendidik, masyarakat, bahkan pemerintah merasa Indonesia sudah dalam darurat kejahatan seksual. Merunut maraknya kasus seksual di Indonesia, kasus yang ,menjadi perhatian adalah yang menjadi korban kebanyakan anak-anak di bawah umur. Masyarakat resah mengharapkan pemerintah lekas memberikan perhatian solusi atas kasus yang terjadi. Anggota Komisi VIII DPR RI, Kuswiyanto menilai bahwa pemerintah harus menetapkan Indonesia sebagai darurat kejahatan seksual anak. Melalui penetapan status tersebut diharapkan pemerintah melakukan pengorganisiran lintas sektor. Kementerian terkait, seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Menteri Sosial (Mensos), dan Menteri Agama (Menag), harus bersama-sama melakukan tindakan penanggulangan masalah tersebut. Menurut Catatan Tahunan 2016 Komnas Perempuan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada di peringkat kedua, dengan jumlah kasus mencapai 2.399 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18% dan sementara pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).

Pemicu kekerasan seksual oleh dan terhadap anak yang marak memang banyak dipengaruhi beberapa faktor. Pemicunya dapat berasal dari peredaran minuman keras, lingkungan yang tak layak, dan juga yang sangat mengkhawatirkan mudahnya mengakses konten pornografi di media internet melalui berbagai gadget. Mengakses internet pada dewasa ini tidaklah terlalu sulit. Berbeda sekali bila membeli minuman keras yang harus mengeluarkan beberapa rupiah yang agak besar jumlahnya dan pembeliannya pun dibatasi dengan berbagai aturan, begitu juga faktor lingkungan yang tak layak masih banyak pihak yang bisa mengawasi untuk tidak terlampau keblablasan. Tapi dalam dunia internet, konten pornografi dapat diakses dengan menyendiri di ruang-ruang yang tak terawasi oleh orang-orang di sekitarnya tanpa terinterupsi. Ruang internet bersifat cair (fluid), mengikuti ruang dan cara berpikir pengaksesnya dan menciptakan budaya ketika menggunakannya. Bahkan sangat berbahaya dalam budaya internet, bila anak-anak yang mengakses konten pornografi merasa berada dalam ruang “simulasi” yang dianggap nyata, dan mereka menjadi kecanduan di dunia internet yang begitu intraktif dan menghibur. Anak-anak akan menjadi bagian “society” dari konten pornografi, karena pengalaman anak-anak yang kurang. Mereka tidak mempunyai penyaring yang cukup, hingga sulit membedakan konten yang baik dan buruk. Padahal pernah terungkap oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise, ketika menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menutup situs-situs pornografi. Terungkap bahwa para predator yang ditemui di penjara mengaku terpengaruh dari situs-situs pornografi ketika melakukan kekerasan seksual. Jadi, sebenarnya Indonesia darurat kebijakan konten pornografi, karena aturan yang ada tidak cukup untuk menahan laju teknologi komunikasi dengan segala kontennya yang tak diharapkan, tidak cukup hanya memblokir beberapa situs karena satu ditutup ribuan dibuat karena secara teknis begitu mudahnya membuat situs dan segala kontennya dengan variasi alamat situs.

Saat ini, ketika kita menikmati televisi pada saat program entertainment atau film di putar, ada efek blurring pada anggota tubuh yang dirasa menampilkan “efek sensual”, hingga binatang pun diberi efek seperti itu bila dianggap merangsang, terasa sangat protektif sekali dalam menyensor tayangan. Kita sangat begitu protektif dengan tayangan televisi, tetapi lupa ada media baru (new media) yang kontennya begitu dahsyat tak terbendung, dan seharusnya ada kebijakan penyensoran. Tetapi mengapa pemerintah tidak memperhatikan secara serius perkembangan teknologi ini, khususnya internet dengan situs-situs yang berkonten pornografi dengan lebih peka. Padahal aturan hukum di Indonesia tentang pornografi cukuplah memadai (Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2011 tentang Pembinaan, Pendampingan dan Pemulihan terhadap Anak yang Menjadi Korban atau Pelaku Pornografi, Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2012 tentang Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi). Pemerintah haruslah sangat sadar, pornografi mudah diakses karena menggunakan media yang mudah dijumpai dan sangat pribadi. Teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat  begitu juga muatan pornografi, ia dengan mudah dan murah tersebar secara massif di masyarakat, bisa diakses oleh siapapun termasuk anak-anak. Media bukan hanya koran, majalah, televisi ataupun radio, namun juga gadget dengan media baru yang berbasis internet. Oleh sebab maraknya aksi penyebaran pornografi ini sudah memasuki wilayah “darurat”, semestinya pemerintah, terutama pemerintah daerah berkewajiban untuk melalukan pencegahan dan penanggulangan pornografi secara serius. Alert Media!

Advertisements
21
Feb
18

Berita Hoax dan Literasi dalam Media Sosial

Media siber berkembang sangat pesat di Indonesia tetapi tidak dengan literasi budaya medianya. Pola konsumsi media siber dalam aktivitas media sosial yang sangat mudah diakses di piranti digital masyarakat Indonesia peningkatan dari tahun ke tahun sangatlah tinggi. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), mengungkap dalam survey yang dilakukan bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Survei yang dilakukan sepanjang 2016 itu menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 256,2 juta orang. Bila melihat data tersebut dapat dipastikan pengguna internet mengakses media siber sangatlah tinggi. Dalam survey tersebut diurai bahwa 67,2 juta orang atau 50,7 persen mengakses melalui perangkat genggam dan komputer. 63,1 juta orang atau 47,6 persen mengakses dari smartphone. 2,2 juta orang atau 1,7 persen mengakses melalui komputer.

Jadi ditilik dengan kemudahan masyarakat Indonesia dalam mengakses media siber dapat diambil asumsi sederhana bahwa masyarakat akan mudah juga berpartisipasi dalam berbagi informasi di media siber. Media sosial sebagai alat berbagi informasi menjadi media yang popular di pengguna internet. Didukung dengan kemudahan copy dan paste, unggah, unduh, dan menautkan informasi ke teman di media sosial menjadikan media sosial bagian dari kehidupan pengguna internet di Indonesia. Bahkan para pengguna internet memiliki beberapa akun di berbagai media sosial yang ada, dari facebook, instagram, path, twitter, dan berbagai media sosial lainnya. Jadi tak dapat dipungkiri, Internet adalah teknologi yang saat ini paling banyak dimanfaatkan oleh manusia secara luas dan tidak dibatasi oleh usia, gender, dan topologi geografis. Berbagai aktivitas manusia sekarang ini hampir semuanya ditopang dengan keberadaan internet.

Marshall McLuhan pakar komunikasi dari Kanada mengingatkan dalam tulisannya di The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man. Bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat, dan teknologi tersebut mengarahkan manusia bergerak dari satu abad teknologi ke teknologi yang lain. Menurut Don Ihde dalam filsafat teknologi (Francis Lim: 2008), ihde memberi penekanan bahwa teknologi tidaklah netral, teknologi sebagai mediator antara manusia dan dunianya, mengubah pengalaman manusia mengenai dunia (perspektif). Manusia dapat menggunakan teknologi sebagai sarana kekuasaan untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu. Kasus kabar bohong atau Hoax sebagian efek hasil dari mudahnya teknologi menghasilkan dan membagi informasi ke segala arah. Dengan kekuatan akses jaringannya teknologi internet dalam hal ini media sosial, seseorang sangat mudah menghasilkan informasi tanpa ada redaksional terlebih dahulu seperti media konvesional sebelumnya (TV, Koran, radio, dll). Hoax adalah Hoax adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjukan pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu. Hoax yang aslinya adalah bahasa Latin “hoc est corpus”, artinya “ini adalah tubuh”. Kata ini biasa digunakan penyihir utk mengklaim bahwa sesuatu adalah benar, padahal belum tentu benar. Sejarah Hoax dimulai pada abad VII di Eropa, pada era kegelapan budaya di Eropa, dan mulai berkembang kembali di era internet berkembang. Karena di dunia siber, informasi dapat diolah dan dihasilkan oleh siapapun, maka Hoax menjadi subur. Dengan keinginan, kebutuhan akan tujuan tertentu, informasi direkayasa dan ditutupi dari informasi yang sebenarnya. Berita Hoax dapat menjadi cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat kita di Indonesia seperti isu yang berkembang sekarang. Kasus yang terjadi dewasa ini, berita-berita Hoax yang berseliweran di media sosial dan karena kemudahan berbagi cukup dengan tekan, di bagi oleh para pengguna akun tanpa melihat kebenaran dan validitas informasi yang isi informasi tersebut dapat menciptakan disintegrasi bangsa, karena berita hoax menghasilkan isu SARA didalamnya.

Untuk itulah kepedulian para pengguna media sosial akan berita yang tidak seharusnya mereka sebar menjadi sebuah poin yang penting, dan literasi media menjadi hal yang seharusnya dimiliki para pengguna media sosial di dunia siber. Ada beberapa poin untuk para pengguna media sosial dalam mengenali berita hoax sebelum mereka berbagi dalam jaringannya; pertama, berita Hoax cenderung berjudul provokatif, kemudian perhatikan link sumber situs atau penulis yang menghasilkan, selanjutnya bedakan opini dan fakta, cek foto yang dilampirkan dengan google image. Karena jangan sampai dengan kesalahan tekan para pengguna akun terjerat pasal menebar informasi yang menyesatkan, menghasut dan bohong yang mengakibatkan pengguna media sosial dijerat hukuman paling lama enam tahun penjara atau denda paling banyak satu miliar rupiah (UU No.11/ 2008), hanya karena tekan dan berbagi berita Hoax.

 

21
Feb
18

Anak dan Games Online

Bermain dalam dunia internet saat ini sepertinya menjadi masyarakat kekinian. Dunia internet dengan mudah diakses dengan gadget, dan bila ingin merasakan tampilan gambar yang lebih besar dapat menggunakan laptop, personal computer dengan akses wifi yang disediakan. Bahkan untuk lebih murah bisa mengakses di warnet dekat dengan pemukiman yang sering kita temui. Tarif untuk akses ke dalam dunia internet di warnet sangatlah terjangkau, bahkan usaha ini menawarkan tarif yang sangat diluar tarif pada umumnya dengan paket happy hours, akses dua jam mereka akan menambahkan satu jam untuk akses berikutnya hingga para pengakses dunia internet seperti dimanjakan hingga berlama-lama di depan monitor.

Dunia internet menawarkan banyak kenikmatan para pengaksesnya, lebih hebat dari televisi yang seringkali dikhawatirkan para pengamat media. Di kurun tahun 90-an, di Amerika Serikat dunia internet telah mencabut keharmonisan ruang tengah masyarakat Amerika. Di ruang tengah atau biasanya kita sebut ruang keluarga, biasanya masyarakat di sana menonton televisi dan membahas apapun yang mereka hadapi sehari-hari. Tetapi semenjak adanya dunia internet, kehidupan menjadi individualis, menciptakan anggota keluarga terpisah dari ruang keluarga, dunia internet yang difasilitasi personal computer meninggalkan ruang tengah dan menciptakan ruang-ruang lebih individu seperti di kamar pribadi ataupun ruang bawah tanah untuk anggota keluarga mengakses dunia internet. Anak-anak dan remaja menjadi anggota keluarga yang menghilang dari ruang tengah, sibuk dengan dunia kotak monitor yang difasilitasi internet.

Di Indonesia, hasil penelitian mengenai Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia yang dilakukan Kominfo di tahun 2014 menunjukkan setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan. Ada aktivitas turunan dalam penggunaan media digital ini yang cukup mengkhawatirkan dalam perilaku sosial si pengguna, khususnya anak-anak. Anak- anak sebagai bagian dari 103 Juta pengguna internet di Indonesia (eMarketer.com, 2015), menghabiskan waktunya di internet dengan mengakses games online.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang biasanya anak-anak menghabiskan waktunya dengan games untuk menunggu waktu berbuka tiba, maka biasanya anak-anak mengakses games online di internet. Aktivitas ini lah yang sangat mengkhawatirkan. Games online menawarkan simulasi realita yang dapat mengikat mereka ketika bermain. Mereka menjadi mahluk sosial di depan layar yang saling berinteraksi dengan layar lainnya saling terkoneksi dalam bermain bersama. Para pengamat seringkali salah mengartikan mereka yang bermain games online sebagai mahluk yang anti sosial, tetapi mereka sebenarnya sedang bersosialisasi dalam sebuah “networking” (saling tersambung dengan komputer lainnya. Istilah penulis sebagai “alternative to society” menggantikan “real society”. Hubungan sesungguhnya menjadi terabaikan, mereka sibuk dengan simulasi dunia yang ditawarkan dan mereka masuk ke dalamnya. Banyak anak-anak yang menjadi korban dalam aktivitas games online ini dari berjam-jam hingga berhari-hari menghabiskan waktunya di layar monitor. Efeknya hubungan dengan orang tua merenggang, dengan sekolah seringkali anak-anak membolos demi aktivitas mereka. Anak-anak bila dibiarkan beraktivitas tanpa bimbingan di dunia games online (bahkan kontennya banyak berbau pornografi dan kekerasan), maka akan sukar orangtua untuk menyadarkan mereka. Ini menjadi menjadi masalah serius bagi orangtua. Contoh, perhatikan bila malam hari di berbagai warnet yang menyediakan games online, siapa pengaksesnya mereka kebanyakan anak-anak.

Games online adalah masalah tersendiri dalam perkembangan teknologi komunikasi yang orangtua di Indonesia belum siap menghadapinya. Orangtua masih menganggap dunia internet sebagai kemajuan jaman yang tidak perlu dikhawatirkan bagi anak-anak mereka. Ada cara untuk menghadapi anak-anak yang mulai beraktivitas atau kecanduan games online. Pertama, susun jadwal aktivitas anak pengganti games. Seperti, olahraga, seni dan aktivitas lainnya. Kedua, jauhkan peralatan dan software games secara bertahap minimal perhatikan komputer atau perangkat game online lainnya di ruang terbuka. Bukan di kamar anak. Terakhir, jangan kenalkan games kepada anak di bawah usia delapan tahun, kecuali permainan edukatif.

 

26
Apr
17

Profetik Jurnal Komunikasi

Komunikasi PROFETIK merupakan istilah baru dalam khazanah ilmu komunikasi, yang mengacu pada pola komunikasi kenabian Rasulullah Muhammad saw yang sarat dengan kandungan nilai dan etika. Komunikasi profetik merupakan kerangka baru praktik ilmu komunikasi dalam perspektif lslam yang terintegrasi-terintegrasi dengan kajian ilmu komunikasi yang sudah berkembang sebelumnya.

Jurnal Komunikasi PROFETIK  adalah Jurnal Ilmu Komunikasi, mengkaji perubahan sosial budaya yang terjadi di era digital menjadi kehidupan berkomunikasi menjadi lebih berwarna. Teori-teori komunikasi mengalir menerjemahkan bahasa fenomena yang terjadi di masyarakat. Teori hadir karena observasi manusia akan sesuatu dan ingin memaknai, dan dirumuskan, dihadirkan sebagai cara sederhana memaknai kehidupan. pengembangan menjadi sederhana lagi untuk dipahami. Teori berfungsi sebagai penjaga pada asumsi-asumsi agar mudah didokumentasikan, teori adalah cara peneguhan ilmu pengetahuan yang terobservasi. Jurnal Komunikasi Profetik yang dihadirkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini ingin menghadirkan peneguhan atas teori-teori yang hadir dalam studi Ilmu Komunikasi, agar menghasilkan keyakinan yang dapat dipercayai dalam masyarakat. Peneguhan atas akademis, praktisi-profesional, bahkan penulis jurnal sendiri agar teori komunikasi berkembang dan dapat digunakan membedah fenomena.

Jurnal Komunikasi PROFETIK terbit dua kali setahun pada bulan April dan Oktober, sebagai jurnal ilmu komunikasi. Berisi tulisan yang diringkas dari hasil penelitian dan pemikiran konseptual di bidang komunikasi . Terbit dalam versi: cetak dan elektronik. Versi cetak dijual dengan harga tertentu. Untuk pembelian dan berlangganan silakan menghubungi Redaksi dan Distribusi Jl. Marsda Adisucipto No.1 Telp (0274)589621. Untuk versi elektronik (PDF) bisa diakses secara terbuka dan gratis tanpa harus berlangganan. Akses yang terbuka ini diharapkan akan meningkatkan keterbacaan dan meningkatkan sitasi karya-karya penulis.

Bahasa utama yang digunakan dalam penulisan artikel adalah Bahasa Indonesia meski tidak menutup kemungkinan artikel dalam Bahasa Inggris.

Profetik Jurnal Komunikasi examines socio-cultural changes, occurring in the digital age into life become more colorful communicate. Theories of communication flows translating phenomena that occur in the community. The theory  observation of human will be present phenomena to interpret, and formulated. presented as a simple way to make sense of life.

alamat Profetik Jurnal Komunikasi: http://ejournal.uin-suka.ac.id/isoshum/profetik/index

ojs

02
Mar
17

Menjadi Seseorang

Ketika kita hidup merasa bukan siapa-siapa, artinya memang kita bukan siapa-siapa. Allah sedang berbincang dengan kita untuk mengerti bahwa Dia lah pemilik kita. Kita merasa harus tergantung dengan seseorang sebenarnya diri kita sedang terbuai dengan artinya kenyamanan palsu, ketika kita hilang, kita akan merasa “down”.

Menjadi seseorang adalah menjadi orang yang bisa berbagi dan menghargai orang lain, ketika seseorang merasa tersakiti oleh kita, bukan kita mebicarakan kejelekan dia, karena seberapa kejelekan yang kita bongkar atas dia, sebegitulah keburukan diri kita atas diri kita sendiri.

17
Aug
16

Konsumsi dalam Ruang ONLINE

Konsumsi seringkali diartikan sebagai akhir dari proses produksi, di mana suatu benda akan habis setelah dikonsumsi. Dalam teori artikulasi, produksi dan konsumsi juga elemen lainnya dilihat sebagai relasi dialogis, di mana satu dan yang lainnya saling mendefinisikan satu sama lain. Karl Marx, dalam du Gay et al. (1997: 52), menyatakan bahwa produksi dalam waktu yang bersamaan adalah konsumsi dan sebaliknya. Tanpa produksi, tidak akan ada objek untuk dikonsumsi dan tanpa konsumsi, tidak akan ada subjek bagi produk. Suatu produk tidak akan disebut produk apabila belum dikonsumsi dan konsumsi ada untuk menciptakan “kebutuhan” akan produksi baru. Dalam online shop, fasilitas yang disajikan internet yang memberikan berbagai kemudahan. Kemudahan yang disajikan dalam berbelanja yaitu efisiensi waktu, tanpa harus bertatap muka pelanggan bisa membeli barang yang diinginkan, Perubahan cara belanja dengan menggunakan online shopsedikit banyak menggeser nilai sosial yang semula jika bertransaksi di pasar menggunakan komunikasi secaraverbal dalam bertransaksi, sebaliknya jika berbelaja melalui online shop proses bertransaksinya hanya melalui jaringan internet tanpa bertatap muka sehingga tidak adanya proses tawar menawar atau berkomunikasi verbal. Online shop sama halnya dengan pasar tradisional atau modern yang ada di dunia nyata namun perbedaannya hanyalah pada cara bertransaksi atau proses jual belinya dengan menggunakan jaringan internet. Para pengguna jasa jual beli online ini dapat dengan mudah melihat pilihan barang dan harga yang akan dibelinya. Keunggulan pembelian secara online ini prosesnya dapat dengan mudah di lakukan cukup dengan membuka situs online shop dengan sambungan jaringan internet. Bagaimana gaya hidup online shop dalam menghasilkan identitas bagi konsumen ?

Gaya Hidup

Membentuk dan menampilkan gaya hidup adalah kebutuhan yang sangat dituntut dalam kehidupan modern saat ini. Gaya hidup menjadi sebuah selera yang menampilkan diri pada kehidupan sosial. Dalam dunia Sosiologi, gaya hidup menjadi pintu masuk untuk memahami pengaruh nilai dan norma sosial dalam diri individu (Takwin, 2006:36). Kita dapat memahami fungsi-fungsi budaya dalam diri manusia dengan melihat pola-pola yang terangkai dalam gaya hidup. Bahkan, gaya hidup dapat menemukan makna dan pemaknaan terhadap dunia kehidupan manusia yang dilakukan. Gaya hidup dipandang sebagai pola-pola tingkah laku yang diungkapkan manusia sebagai respon terhadap dunia dan segala hal yang melingkupinya. Bukan hanya sebagai praktik-praktik konsumsi, pertunjukkan benda-benda dan pengalaman seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang di konsepsi sebagai nilai instrumental saja. Estetika realitas melatarbelakangi arti penting gaya hidup (Featherstone, 2008: 204). Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang mengenakannya dan menggambarkan seberapa besar nilai moral orang tersebut dalam masyarakat di sekitarnya. Gaya hidup dikemukakan oleh Plummer, “sebagai cara hidup individu yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya.” (Plummer, 1983: 221). Jadi, gaya hidup dapat dikatakan sebagai suatu pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktifitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya.

Perubahan teknologi komunikasi yang sangat cepat dan mengglobal memberikan perubahan jelas. Perkembangan teknologi berupa internet mempengaruhi tingkat kebutuhan dalam kehidupan berupa perubahan lingkungan sosial, tatanan kehidupan, berubahnya pola hidup. Teknologi ini menghasilkan ekspresi diri. Kondisi lingkungan mendukung untuk mengakses berbagai bentuk inovasi atau perubahan yang ada di lingkungan. Internet memberikan beragam fasilitas yang memudahkan penggunanya untuk mengakses beragam informasi yang diinginkan, dimanjakan oleh beragam fasilitas. Beragam fasilitas yang disajikan dalam teknologi internet, ia memberikan warna baru dalam segi belanja, warna Online shop menjadi salah satunya. Online shopping adalah proses pembelian produk ataupun jasa oleh konsumen melalui media internet Online shopping behavior (also called online buying behavior and Internet shopping or buying behavior) refers to the process of purchasing products or services via the Internet”. (Li and Zhang, 2002)

Kemudahan yang disajikan dalam online adalah efisiensi waktu, tanpa harus bertatap muka pelanggan bisa membeli barang yang diinginkan. Perubahan cara belanja dengan menggunakan online shop sedikit banyak menggeser nilai sosial yang semula jika bertransaksi di pasar menggunakan komunikasi secara verbal dalam bertransaksi, sebaliknya jika berbelaja melaui online shop proses bertransaksinya hanya melalui jaringan internet tanpa bertatap muka sehingga tidak adanya proses tawar menawar atau berkomunikasi verbal. Online shop sama halnya dengan pasar tradisional atau modern yang ada di dunia nyata namun perbedaannya hanyalah pada cara bertransaksi atau proses jual belinya dengan menggunakan jaringan internet. Para pengguna jasa jual beli online ini dapat dengan mudah melihat pilihan barang dan harga yang akan dibelinya. Keunggulan pembelian secara online ini prosesnya dapat dengan mudah di lakukan cukup dengan membuka situs online shop dengan sambungan jaringan internet. Pemenuhan kebutuhan melalui online shop untuk sebagian masyarakat memberikan warna tersendiri. Apakah dengan online shop masyarakat merasa mendapatkan kemudahan yang di tawarkan ataukah hal lain yang membuat mereka memilih cara belanja dengan menggunakan online shop. Apakah hanya pertimbangan geografis dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan sosial yang berada di kawasan yang tidak begitu strategis sehingga online shop menjadi salah satu pilihan untuk pemenuhan kebutuhan ataukah ada hal yang lain yang membuat masyarakat memilih online shop dalam memenuhi kebutuhan.

Penggunaan online shop bagi masyarakat memberikan perubahan belanja yang semula harus berdesak-desakan di pasar menjadi satu hal yang baru dan praktis. Saat ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya namun karena gaya hidup, demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi. Tidak penting apakah barang itu berguna atau tidak, diperlukan atau tidak oleh konsumen. Karena itu yang masyarakat konsumsi adalah makna yang dilekatkan pada barang itu, sehingga tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat menjadi tidak pernah terpuaskan. Menurut Featherstone (Chaney 2006:67) menjelaskan budaya konsumen dibagi ke dalam tiga tipe yaitu pertama, konsumerisme merupakan tahap tertentu kapitalis. Kedua, konsumerisme dan konsumsi merupakan persoalan yang lebih sosiologis mengenai relasi benda-benda dan cara melukiskan status. Praktik konsumsi merupakan strategi untuk menciptakan dan membedakan status sosial. Tipe kedua dari konsumsi ini dapat kita lihat dengan munculnya komunitas pengguna barang tertentu. Dalam kata lain menurut Robert G. Dunn, “Commodity society represents a massive interpenetration of the economic and cultural spheres” (Dunn, 2008: 53). Gaya hidup online dalam aktivitas belanja mempresentasikan realitas tertentu. Daya simbol berperan membuka ruang komunikasi dan intepretasi terhadap tanda-tanda yang disebarkannya (Fashri, 2014: 118).

Dalam aktivitas online shop, belanja secara tidak sadar membentuk impian dan kesadaran semu para konsumen dan melahirkan pola-pola konsumerisme, berbelanja dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Belanja menjadi aktivitas sosial dan suatu saat menjadi kompetisi untuk diri sendiri (memutuskan membeli atau tidak) juga terlebih untuk kompetisi pada teman dan anggota masyarakat yang lain (sebagai simbol status, gengsi, dan image manusia modern dan tidak ketinggalan zaman).

Budaya Online Shop

Teknologi baru seperti halnya internet yang online senantiasa membawa implikasi budaya bagi penggunanya. Budaya atas penggunaan hardware dan aplikasi, bila secara utuh mengenal akan membawa dalam kenyataan yang lebih dalam atas teknologi baru tersebut dibanding ketika hanya memahami sebagian. Pemahaman atas hardware berarti seseorang memahami fisik teknologi tersebut, ibarat handphone, seseorang yang paham hardware berarti dia mengerti setiap aplikasi atau fitur di dalamnya. Tak hanya berhenti memahami secara fisik, mengenal software dalam perspektif ini erat kaitannya dengan memahami nilai-nilai yang diusung oleh media tersebut. Nilai atas presentasi gaya hidup masyarakat dan juga representasi yang dihadirkan atasnya. Padahal, diketahui transformasi internet telah berlangsung dalam tiga gelombang. Joseph R. Dominick mencirikan gelombang pertama sebagai Web 1.0 (1995-2003), pengguna internet pada umumnya menjadi konsumen yang pasif dalam mengonsumsi teks-teks yang sudah disediakan oleh produsen konten, sifatnya statis. Pada Web 2.0, ciri yang kentara adalah pada proses sharing dan kolaborasi. Posisi pengguna dalam hal ini menjadi lebih aktif sebagai produsen konten. Sementara, Web 3.0 dicirikan oleh munculnya media sosial yang dengan segera mengubah rutinitas publik sebagai pengguna media. Online shop merupakan bagian dari e-commerce yang merujuk pada aktivitas bisnis dengan memanfaatkan teknologi komunikasi seperti internet sebagai mediumnya (Meadows, 2008:213). Era e-commerce telah berkembang dan kini menuju ke situasi yang disebut dengan era e-commerce 2.0. Dengan kata lain, e-commerce 2.0 tidak hanya sebatas jual beli secara online, bahkan melibatkan interaksi di media sosial seperti facebook dan twitter. Pemanfaatan media sosial untuk kepentingan bisnis sering disebut dengan istilah social commerce.

Menurut Castells, dalam bukunya The Information Age: Economy, Society, and Culture, munculnya budaya virtualitas nyata. Di era masyarakat informasi, menurut Castells kita akan bisa melihat kemunculan suatu pola yang sama yang berasal dari perkembangan jaringan, fleksibilitas, dan komunikasi simbolis (jaringan komunikasi mediasi-komputer), dalam bentuk budaya yang sebenarnya diatur di sekitar media elektronik. Seperti Online shop, merupakan Jenis ekspresi budaya yang muncul semakin meningkat dan dibentuk oleh dunia media elektronik (Nasrullah, 2012: 68). Stuart Hall dalam   (1997: 596-636) menegaskan bahwa perkembangan era modern kini telah membawa perkembangan baru dan mentransformasikan bentuk-bentuk individualism sebagai tempat di mana konsepsi baru mengenai subjek individu dan bagaimana identitas itu bekerja. Ada transformasi yang terjadi dalam individu modern di mana mereka mencoba untuk melepaskan diri dari tradisi maupun struktur sosial yang selama ini dianggap membelenggu. Sebagai sebuah budaya, Instagram merupakan konteks institusional maupun domestik di mana teknologi ini juga menggunakan simbol-simbol yang memiliki makna-makna tersendiri dan sebagai sebuah bentuk “metaphorical” yang melibatkan konsep-konsep baru terhadap teknologi dan hubungannya dengan kehidupan sosial (Nasrullah, 2012: 52). Raymond Williams mendefinisikan budaya juga sebagai praktik-praktik penandaan (signifying practices). Budaya merupakan makna bersama, Raymond Williams (1981: 64) berpendapat bahwa kebudayaan dapat dipahami melalui representasi dan praktik kehidupan sehari-hari, yang meliputi analisis atas semua bentuk signifikasi yang berasal dari pengalaman yang dihidupi, yaitu teks, praktik dan makna.

Bahkan lanjutnya, budaya online sebagai suatu jalan hidup spesifik yang dianut baik oleh orang, periode maupun oleh sebuah kelompok tertentu dalam masyarakat. Sebagai sebuah deskripsi dari sebuah jalan hidup partikular, yang mengepresikan makna-makna dan nilai-nilai tertentu bukan hanya seni dan proses belajar, melainkan juga pada institusi-institusi dan perilaku sehari-hari (Budiman, 2006:104) Makna dan praktek tersebut tidak muncul dari arena tersendiri, melainkan secara kolektif. Hall (1997: 2) pun melihat budaya sebagai sistem makna bersama. Ia berpendapat bahwa budaya sebagai sebuah proses, sekumpulan tindakan untuk melakukan produksi dan pertukaran makna, “the giving and taking of meaning”, antar individu di masyarakat atau kelompok. Hall (1997: 3).

Konsumen dapat memberikan perspektif baru mengenai budaya, yang melihat budaya sebagai proses perjuangan melihat dunia dan membuat klaim pada bentuk-bentuk sosial dan material, sebagai kontruksi diri. Konsumen menjadi jalan untuk memahami masyarakat modern. Konsumen memiliki proses ganda, sebagai dimensi kultural ekonomi dan dimensi ekonomi pada benda-benda kultural (Miller, 1998:2). Pertama pemanfaatan benda-benda materi tidak hanya dilihat dari kegunaannya, namun juga sebagai komunikator. Kedua, prinsip-prinsip penawaran, permintaan, akumulasi kapital, kompetisi dan monopoli yang beroperasi dalam ranah hidup, benda-benda kultural dan komoditas. Dalam kajian pola konsumsi ini, definisi konsumsi yang diterjemahkan dari consumption, yang berarti “the act of consuming”, tindakan untuk mengkonsumsi, dapat bermakna memanfaatkan, menggunakan, atau menikmati sesuatu yang bersifat material maupun non material. Komodiatas konsumsi diperlakukan sebagai tanda (signs) yang mempresentasikan konsep, gagasan dan perasaan kita dalam suatu tatanan tertentu untuk dapat dipahami.

Habitus dalam aktivitas shop online

Piliang (2004) mengemukakan bahwa “Habitus berkaitan dengan situasi, aksi, prosedur, praktik-praktik keseharian yang mengikuti jenis dan gaya hidup tertentu” (dalam Ibrahim, 2004: 325). Habitus mencerminkan pembagian objektif dalam struktur kelas seperti menurut umur, jenis kelamin, kelompok, dan kelas sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki, jadi habitus akan berbeda-beda tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial, tak setiap orang sama kebiasaannya, orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial cenderung memiliki kebiasaan yang sama. Dalam pengertian ini habitus dapat pula menjadi fenomena kolektif, habitus memungkinkan orang memahami dunia sosial. Kebiasaan individu tertentu diperoleh melalui pengalaman hidupnya dan mempunyai fungsi tertentu dalam sejarah dunia sosial dimana kebiasaan itu terjadi. Habitus dapat bertahan lama dan dapat pula berubah dalam arti dapat dialihkan dari satu bidang ke bidang yang lain.

Memperhatikan para pengguna online shop dalam mengkonsumsi banyak hal yang dapat diamati. Beberapa narasumber yang menjadi subjek penulisan memperlihatkan bahwa pembelian menggunakan online shop itu mempermudah mereka. Vira, mahasiswi dari Universitas Negeri Islam di Yogyakarta yang berprofesi menjadi model merasakan banyak kemudahan dalam berbelanja online. Vira masih menyukai untuk berjalan-jalan ke mal untuk membeli barang keperluannya. Mal yang ia sukai adalah yang berada di pusat kota, tak sekedar berbelanja ia juga banyak dating ke mal untuk nonton di bioskop yang disediakan di mal tersebut.

 

Daftar Pustaka

Budiman, Hikmat. 2006. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

du Gay P. 1997. Production of Culture, London: Sage in association with Open University.

Dunn, Robert.G. 2008. Identifying Consumption Subjets an Objets in Consumer Society. Philadelphia: Temple University Press.

Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage Publications.

Mackay, Harvey. 1999. Dig Your Well Before You’re Thirsty. Currency Books.

Takwin, Bagus. 2006. Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas. Yogyakarta : Jalasutra.

Fashri, Fauzi. 2014. Pierre Bourdieu Menyingkap Kuasa Simbol. Yogyakarta: Jalasutra.

Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antar Budaya: di Era Budaya Siber. Jakarta: PT. Kencana Prenada Media Group.

Nasrullah, Rulli. 2014. Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia). Jakarta: PT. Kencana Prenada Media Group.

Featherstone, Mike. 2008. Posmodernisme Budaya dan Konsumen. Yogyakarta: Jalasutra.

Plummer,R. 1983. Life Span Development Psychology: Personality and Socialization. New York: Academic Press.

Chaney. (2006). Suatu Bentuk Masyarakat Modern. Jakarta: Kanisius.

Meadows, Donella H. 2008. Thinking in Systems: A Primer. Chelsea Green Publishing: Vermont.

Miller, Daniel. 1998. Shopping, Place and Identity. Newyork : Routledge

Li and Zhang. 2002. Consumer Online Shopping Attitudes and Behavior. Researchgate

21
Mar
16

KOMUNIKASI ANTAR AGAMA DALAM KEARIFAN LOKAL

Indonesia atau Nusantara adalah negara kepulauan terbanyak dan terpanjang di dunia (lebih 17 ribu pulau, jika dibentangkan di benua Eropa jaraknya mulai dari ujung Inggris Raya sampai Turki). Pantainya terpanjang setelah Kanada. Luas daratannya sepertiga (27 persen) dari seluruh wilayah tropis dunia dengan keragaman kekayaan hayati ke dua terbesar setelah Brazil. Posisi geografis-geopolitik Indonesia juga sangat unik dan strategis karena membatasi sekaligus menghubungkan benua Asia dan Australia. Posisinya yang dibelah khatulistiwa sangat menguntungkan karena berkelimpahan cahaya matahari dan curah hujan tinggi. Cincin api (ring of fire) yang mengelilingi wilayah Indonesia menyebabkan kawasan ini berlimpah sumber energi panas bumi gunung volkanik aktif. Kawasan ini juga memiliki kesuburan tanah tinggi.

Kekayaan bumi Indonesia juga sangat luar biasa. Keragaman biodiversity hayati tropis menyimpan kekayaan flora, fauna dan zat hidup lainnya yang sangat berguna bagi kelangsungan peradaban manusia (sumber pangan, pakan, obat-obatan, serat alam, pekerja mikro biologis dan sumber energi terbarukan). Produksi tambang dan mineral yang ada di bumi Indonesia juga sangat mencengangkan. Timah nomor satu di dunia (1), nikel (3), tembaga (5) gas alam (8), Batubara (6), dan emas pada peringkat tujuh dunia ( The Economist, 2008-10). Hasil tambang lain seperti mangan, bauxit, perak, platina, berlian, uranium, biji/pasir besi, pasir kuarsa, bentonit, zeolit, marmer, granit tersebar di sejumlah daerah tapi belum tercatat dalam peringkat dunia. Hasil pertanian tropis juga sangat menakjubkan. Karet terbesar kedua (2), beras dan coklat terbesar ke tiga (3), kopi (4) teh (6), kelapa sawit, pala, lada, kayu manis dan cengkeh peringkat pertama dunia. Indonesia juga menjadi salah satu produsen ikan dan hasil laut tropis terbesar di dunia.

Kekayaan itu seharusnya bisa membuat Indonesia masuk kelompok negara kaya dan rakyatnya masuk golongan berpendapatan sama dengan Malaysia, Thailand atau Brazil. Namun yang terjadi justru makin jauh dari harapan dan cita-cita Indonesia merdeka, masyarakat adil dan makmur. Kesalahan pemilihan strategi-kebijakan ekonomi menyebabkan posisi Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Fakta dan data menunjukkan bahwa 65 tahun setelah merdeka setengah penduduk Indonesia miskin dan pendapatannya kurang dari 2 US $/hari/orang (Basri, 2009) sementara sapi di Eropa mendapat subsidi 2 US $/hari/ekor (Stiglitz, 2002). Menurut para ekonom pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi tetapi The Economist (2010), mencatat pertumbuhan tahun 2007 hanya 5.5 persen, di bawah Iran dan Mesir (6.5 persen dan peringkatnya 54). Cadangan devisanya masuk peringkat 27 (tertinggal jauh dari Thailand, 18; Malaysia, 17; Angola, 15; Brazil, 9 ). Human Development Index (HDI) sangat rendah dan masuk peringkat 111, dibawah Vietnam.

Paradox negara Indonesia kaya tapi utangnya banyak dan 100 juta rakyatnya miskin harus menjadi pertanyaan, pelajaran serta kesadaran bersama. Mengapa tahun 1970 utang Indonesia hanya sekitar 3 milyar US $ tetapi tahun 2010 membengkak menjadi 160 milyar US $ (1500 trilyun dan cicilan utang setiap tahun hampir 200 trilyun rupiah) ?, bahkan data terakhir di tahun 2015 ini utang pemerintah Indonesia berhasil tembus Rp 4.000 triliun lebih, seperti yang diberitakan CNN Indonesia berikut ini : Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah utang luar negeri yang ditarik swasta dan pemerintah pada Juli 2015 sebesar  US$ 303,7 miliar atau mencapai Rp 4.376,3 triliun (kurs terkini Rp 14.410/US$). Angka tersebut turun 3,7 persen dibandingkan dengan posisi bulan yang sama tahun lalu atau year on year (yoy) (http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150920094113-78-79808/bi-total-utang-luar-negeri-ri-rp-4376-triliun-per-juli-2015/, diunduh, Selasa, 17 November 2015 pukul 10.50 wib).

Selain di tinjau dari kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, namun penuh dengan permasalahan terkait pengelolaan yang di rasa belum optimal, Indonesia juga pernah beberapa kali mengalami permasalahan dehumanisasi yakni konflik-konflik internal, baik konflik suku, ras, agama (sara), aliran kepercayaan dan konflik lainnya yang semua ini justru semakin membuat catatan hitam Nusantara tercinta. Apakah hal ini di karenakan belum terciptanya komunikasi humanis secara optimal di antara sesama putra bangsa?

Sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia adalah sebuah bangsa yang komposisi etnisnya sangat beragam. Begitu pula dengan ras, agama, aliran kepercayaan, bahasa, adat istiadat, orientasi kultur kedaerahan serta pandangan hidupnya. Jika diurai lebih terperinci, bangsa Indonesia memiliki talenta, watak, karakter, hobi, tingkat pendidikan, warna kulit, status ekonomi, kelas sosial, pangkat dan kedudukan, varian keberagaman, cita-cita, perspektif, orientasi hidup, loyalitas organisasi, tingkat umur, profesi dan bidang pekerjaan yang berbeda-beda. Tiap-tiap kategori sosial, masing-masing memiliki “budaya” internal sendiri, sehingga berbeda dengan kecenderungan “budaya” internal kategori sosial yang lain. Bila dipetakan secara lebih teoritis, bangsa Indonesia dari segi kultural maupun struktural memantulkan tingkat keragaman yang tinggi (Badan Litbang DEPAG RI, 2003 : 1).

Tingginya pluralisme bangsa Indonesia membuat potensi konflik bangsa Indonesia juga tinggi. Potensi perpecahan dan kesalahpahaman juga tinggi. Baik konflik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Dalam skala kecil, konflik tercermin pada komunikasi yang tidak sambung atau tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan rasa tersinggung, marah, frustasi, kecewa, dongkol, bingung, bertanya-tanya, dll. Sementara itu, konflik dalam skala besar mewujud dalam, misalnya, kerusuhan sosial, kekacauan multibudaya, perseteruan antar ras, etnis dan agama, dll (Badan Litbang DEPAG RI, 2003 : 2).

Sebagai contoh, ada beberapa peristiwa terjadinya konflik sosial bernuansa agama di Indonesia, kasus kerusuhan sosial di Banjarmasin tahun 1997, konflik sosial bernuansa sara berbagai komunitas etnik di Kalimantan Barat, kasus kerusuhan di Mataram Januari 2000, konflik sosial bernuansa agama kasus tentang tragedi kerusuhan Poso, kerusuhan Kupang Nusa Tenggara Timur 30 Nopember 1998, kasus kerusuhan Lampung, kasus kerusuhan Ambon, kasus kerusuhan sara di Palangkaraya, tragedi berdarah di kota Waringin Timur yakni kasus Dayak dan Madura tahun 1999 (Badan Litbang DEPAG RI, 2003 : xiii-xix).

Terkait dengan berbagai peristiwa memilukan yang terjadi di Indonesia/Nusantara, maka segenap putra bangsa harus bersama-sama, bersatu padu buat mencari solusi yang tepat. Terdapat istilah yang sangat ideal yakni “act locally and think globally” (bertindak dan berbuatlah di lingkungan masyarakat sendiri menurut aturan-aturan dan norma-norma tradisi lokal serta berpikir, berhubungan dan berkomunikasilah dengan kelompok lain menurut cita rasa dan standar aturan etika global) (Riyanto, 2013 : vii) sudah mulai muncul ke permukaan sejak dekade delapan puluhan, namun hingga sekarang, seperempat abad kemudian,belum juga kunjung ketemu formula yang jitu tentang hal tersebut.

Pengalaman kemanusiaan merasakan hal-hal yang sebaliknya layaknya berbagai peristiwa sara yang menimpa bangsa, bukannya kedamaian, mutual trust, peaceful coexistence, at-ta’ayus as-silmi, tolerance, tasamuh antar sesama dan antar kelompok umat manusia, tetapi justru kekerasan, violence, prejudice (buruk sangka), su’u az-zan keagamaan, etnisitas, kelas, ras, kepentingan (seperti yang di sampaikan dalam Al-Qur’an Surat al-Hujurat [49] :12), baik di tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional (global). Seolah-olah semua ingin membalik adagium “act and think locally only”, tanpa harus di barengi “think globally” (Riyanto, 2013 : vii).

Di dalam bergaul, berhubungan dan berkomunikasi dengan kelompok lain tak merasa perlu mempertimbangkan dan mengindahkan tata aturan, hukum-hukum, kesepakatan-kesepakatan dan hubungan internasional. Masing-masing kelompok etnis, agama, kelas, kultur ingin mempertahankan, bahkan sekte, mazhab atau aliran pemikiran tertentu ingin mengokohkan dan mempertegas identitas lokal keagamaan, identitas kultural, identitas etnis, identitas politik karena merasa di bawah bayang-bayang ancaman dominasi dan hegemoni kultur, budaya atau peradaban asing tertentu, sedangkan sejak jaman dahulu, pada masa Hindu dan Budha di Jawa Tengah dan DIY sebagai contoh, terutama abad 7 sampai 14 M, leluhur Bangsa Indonesia telah memperlihatkan keragaman kultur, keragaman agama dan keragaman tradisi yang berbeda namun tetap bisa hidup harmonis, berdampingan, menjaga toleransi dengan baik, bahkan tercipta integrasi interkoneksi antar agama Hindu Syiwa dan Budha Mahayana “unity in diversity” yang nampak di beberapa candi dan relief candi, seperti di Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Boko.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Agama RI, Departemen (2003), Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Kehidupan Beragama, Bagian Proyek Peningkatan Pengkajian Kerukunan Hidup Umat Beragama, Seri II Konflik Sosial Bernuansa Agama di Indonesia, Jakarta.

Agama RI, Departemen (2003), Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Kehidupan Beragama, Bagian Proyek Peningkatan Pengkajian Kerukunan Hidup Umat Beragama, Seri II Riuh di Beranda Satu Peta Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, Jakarta.

Kriyantono, Rachmad, Teknik Praktis Riset Komunikasi (2006), Jakarta : Kencana Prenada Media Gruoup.

Pawito, Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif (2007), Yogyakarta : Jala Sutra.

Riyanto, Waryani Fajar (2011) Naga-Ra Atlantis Purba (Replika Ibu Kota Atlantis dan Relief Para Nabi di Candi Borobudur, Relief Al-Qur’an, NKRI Naga-Ra Ke-Satu-An Ind-One-Sia, Menemukan Kembali Atlantis Purba O-ra Hana Jiwa Ka-Jawi Jiwi di Kebumian Indonesia, Yogyakarta : Atlantis Press.

Samovar, Larry A dkk (2010), Komunikasi Lintas Budaya Edisi 7, Jakarta : Salemba Humanika.




sohibrama@gmail.com

Internet Sehat

Pengunjung

  • 268,892 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

May 2018
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS media ide periklanan

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita indonesia

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile

RSS bola

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS inggris

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id
Advertisements