21
Dec
11

Sejenak Mengenal “Seni” dari Ke-In-(donesia/ dia) : Di Biennale Jogja XI

Segala sesuatu dimulai dari melihat. Karena sesuatu baru ada ketika kita melihatnya. Dari melihat lah muncul penafsiran, walau pada awalnya masih samar-samar, tidak jelas, atau  menampak tidak punya makna apa-apa. Penafsiran mulai mengaktual ketika dimasukkan dalam ruang visual dimensi mata kita sebagai stimuli indera. Sesungguhnya penafsiran itu ada di sekitar kita, bahkan yang berdetak dalam diri kita seperti degup jantung dan rasa nafas kita sekalipun. Sumber-sumber penafsiran ada di dalam kesekarangan dan kedisinian kita. Masalahnya adalah sudahkah, atau maukah kita melihat, mendengarkan, merasakan, mencecap apa-apa yang ada pada dan di sekitar kita? Itulah kata-kata yang saya terima ketika mengenal bahasa “seni” dari Dwi Marianto ketika kuliah dulu, walau tafsiran itu sering ku tak mengerti…

Keberanian menjejak kumpulan karya seni di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dalam frame “Biennale Jogja XI-Equator#1 – Shadow Lines :  Indonesia Meets India” menyadarkan langkah ini bahwa seni dapat berasal dari langkah berani untuk mengenal dan membuka dimensi indera, untuk mengenal hasil cipta manusia, mengenal estetika kehidupan selain ruang matematis-ilmiah. Ruang visual sudah terbuka ketika kuparkirkan motor shogun, disertai hujan dibulan Desember diriku berlari kecil menuju pelataran seni Bienalle, di pelataran TBY ini, simbol-simbol seni mulai diperkenalkan bahwa ruang ini membawa orang-orang yang datang untuk saling berkumpul dan mengenal dua budaya. Jelas terlihat dalam tema yang diangkat di ruang Biennale Jogja di TBY berupaya untuk mempresentasikan nilai-nilai Ke-In (dalam) -donesia dan –dia, dimana seniman dari dua Negara menerjemahkan dan menafsirkan kondisi kekinian mereka, mereka memantulkan pengalaman personal mereka dan juga kondisi wacana politik yang terjadi didalam ruang pengalaman mereka sehari-hari.

Agak disadarkan oleh petir yang memunculkan warna putih, bergerak langkah ini untuk menorehkan pena di buku selamat datang yang disodorkan penjaga didalam ruang pamer,

“Maaf mas, sepatunya dipakai saja”, kalimat itu menyadarkanku untuk memakai sepatu yang kulepas dimuka ruang pamer, karena memang kulihat diruang pamer banyak sepatu dan sandal berserakan tak tertata diatas keset sehingga reflek tanganku mencopot sepatu. Sekiranya itu merupakan instalasi pamer tersendiri.

“Hmmmm…ono-ono wae” Gumanku tak menjawab kalimat yang membuka percakapan dari mbak penjaga ruang pamer.

“Kok itu banyak sandal dan sepatu didepan mbak”, tanyaku malu-malu.

“Itu ruang presentasi dari mas Wiyoga kok mas”, ujar dia.

Dia menerangkan lebih lanjut tentang karya instalasi itu, dia menjelaskan bahwa sandal dan sepatu yang berserakan dimuka itu merujuk pada symbol visual yang sering terlihat di pelataran masjid. Sang pembuat instalasi itu mas Wiyoga ingin memindahkan stimuli visual itu diruang seni Biennale ini. Dia ingin mengingatkan pengunjung seperti saya untuk melihat dimensi visual itu dengan cara baru karena hadir diruang seni bukan diruang religi seperti di pelataran masjid yang sakral. Karya ini ganjil dan tak lazim berada diruang seni karena ruang ini bukan ruang “bersih” sehingga saya harus mencopot sepatu, tertipu saya dengan gaya mas Wiyoga menghadirkan instalasinya.

Setelah menorehkan pena kulihat maket sebuah gedung seperti gaya Rennainsances yang saya ketahui ketika belajar seni dikelas seni dulu bersama pak Dwi Marianto. Mata ini tertarik untuk mengabadikan visual ini dengan latar belakang para wajah khas In-Dia dibelakangnya, suatu visual yang sangat luarbiasa pada mata yang jarang datang ke ruang seni ini. Rasa ini memang harus selalu kuasah karena banyak ruang seni yang dapat mengolah rasa didalam diri tidak hanya matematis-logis yang selalu ada di pikiran. Rasa akan sesuatu (kebahagiaan, kepedihan, keterharuan, cinta, ketakutan) disampaikan melalui cara-cara yang berbeda, dengan pengiasan yang beragam seberagam individu-individu dan komunitas-komunitas yang ada. Bahkan dalam satu komunitas pun selalu terdapat kecenderungan-kecenderungan yang bersifat pribadi. Kecenderungan ini sangat tergantung pada bagaimana ia berfikir. Namun demikian perlu dipahami bahwa berfikir itu tidak melulu berpusat di otak, berfikir itu bergulir di keseluruhan tubuh melalui jaringan hormon dan enzim.

Didalam ruang pamer ini banyak sekali karya seni dari India dihadirkan, teringat cerita dari teman-teman tentang karya seniman India, dia berkata bahwa di India,  seni yang melebih-lebihkan esensi dari sesuatu banyak sekali ditemui, sebagai contoh adalah patung tembaga Dewi Parwati dari periode Chola yang dibuat sekitar abad XI. Figur Dewi Parwati digambarkan sangat sensual, buah dadanya ditampilkan besar, bulat dan kencang, pinggangnya kecil seperti tubuh lebah, pinggulnya besar. Badannya secara keseluruhan meliuk dengan gerakan dinamis. Tangan kirinya melengkung terjurai ke bawah, yang kanan menekuk dengan bentuk mudra yang menandakan bahwa ia sedang mengatakan sesuatu. Di ruang ini banyak kulihat seperti itu”melebih-lebihkan sesuatu” terlihat pada cinema India yang dipajang, wuah… Bollywood is sensual scene.

Berpikir sejenak memandang para pengujung yang datang disini pikiran ini menjangkau halus syaraf di otak untuk berpikir, bahwa kata ilmiah dalam seni menjadi mitos. Namun dalam kenyataannya, kata ilmiah seringkali jadi senjata pembunuh yang mematikan terhadap ide-ide atau pendapat-pendapa liar, lain, non-konvensional, yang imaginatif, yang melampaui normative expectation, juga terhadap ide-ide yang berasal dari rasa dan dari kegiatan merasakan rasa. Dalam ‘ilmiahisme’ karya seni dipandang melulu sebagai objek intelektual, objek kajian ilmiah, atau dengan pengataan lain karya seni yang baik adalah karya seni yang harus bisa terpaparkan secara jelas, dalam kaidah-kaidah linear akademis. Semoga pernyataan mengguman ini menjadi kritik seni di Biennale XI di TBY.


0 Responses to “Sejenak Mengenal “Seni” dari Ke-In-(donesia/ dia) : Di Biennale Jogja XI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


sohibrama@gmail.com

soekarno falls

More Photos
Internet Sehat

Pengunjung

  • 213,125 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

December 2011
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS media ide periklanan

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita indonesia

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile

RSS bola

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS inggris

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id

%d bloggers like this: