20
Jan
09

Sejarah Fotografi Mode

jayengSejak awal abad, mode, fotografi dan citra perempuan telah berkembang bersama. Fotografi mode telah menjadi sebuah aliran yang independen dan menguntungkan segera setelah kemunculannya di akhir abad kesembilan belas di Paris ketika studio besar seperti Charles dan Emile Reutlinger dan Mayer and Pierson, berspesialisasi dalam potret perempuan bermode. Majalah mode telah memainkan peran kunci dalam evolusi yang terjadi ini, khususnya tiga di Amerika: Vogue (dikembangkan oleh Conde Nast), Vanity Fair yang asli, dan Harper’s Bazaar. Mereka memberikan fasilitas, dukungan dan pemimpin seni (seperti Edward Steichen dan Alexey Brodovitch yang terkenal) dibutuhkan untuk fotografi mode.

Salah satu aspek yang khususnya menarik dari fotografi mode adalah cara ia bermaksud untuk menyerap kecenderungan estetikanya. Baron Adolph de Meyer memproduksi gambar PICTORIALIST untuk Vogue. Steichen, yang menggantikannya dalam majalan di 1924 menyenangi endekatan MODERNIST yang terinspirasi oleh Kubisme dan Art Deco. SURREALISME (Man Ray), MANIPULASI eksperimental (Erwin Blumenfeld, H.P. Horst) dan corak PHOTOJOURNALIST (Toni Frissell) semuanya meninggalkan jejak yang hidup dalam citra mode. Para fotografer yang bekerja untuk Steichen di Vogue termasuk Cecil Beaton, Horst dan George Hoyningen-Huene. Semua dari mereka menemukan gaya visual yang berbeda dibawah pengarahannya yang berdasarkan pada memamerkan keseharian selebritis dan mendekatkan pakaian yang bermode dengan elemen kontemporer (bangunan pencakar langit, objek berteknologi tinggi, tema olahraga, lukisan abstrak oleh Jackson Pollock).

Di tahun 1950an, Brodovitch melepaskan aliran di Harper’s Bazaar dengan menggunakan fotografer non-konformis seperti Brassai,Henri Cartier-Bresson, dan Man Ray untuk secara radikal mengubah citra majalah; Hiro dan Richard Avedon sangat berhutang budi kepada Brodovitch. Bersama dengan Irving Penn, mereka adalah figur yang paling penting dari tahun 1950an. Selama dekade ini, fotografi mode menjadi lebih dari sekedar seni pakai, mencapai sebuah otonomi estetika dan sebuah penemuan yang mungkin akan sangat jarang disandingi di tahun-tahun sekarang ini.

Mode di tahun 1960an meninggalkan haute couture dalam citra pakaian yang siap pakai yang lebih sesuai dengan nilai kontra kultural dan populer. Di ‘swinging London’ di tahun 1960an, David Bailey (diabadikan di film Blow-up Michelangelo Antonioni, 1966) mempersonifikasikan fotografi mode sebagai sesuatu yang lebih besar dari hidup yang disesuaikan dengan tiap kecenderungan yang terjadi – sebuah tipe mewakili beberapa dekade berikutnya oleh fotografer Amerika Annie Leibovitz. Fotografer seringkali berada dibawah kontrak dengan para desainer terkemuka – Avedn bekerja untuk Versace, Sarah Moon untuk Cacharel. Fotografi mode telah diambil hampir dalam tiap subjek, dan isinya sangat seksual, sebagaimana dalam karya Guy Bourdin, Helmut Newton dan Jeanloup Sieff. Perusahaan pakaian Italia Benetton telah menyebabkan skandal dengan memulai pembicaraan subjek yang tabu seperti AIDS dan rasisme dalam kampanye iklannya yang kontroversial. Deborah Turbeville, sebaliknya, telah membuat sebuah figur universal visual idiosinkretik dalam ruang kosong yang ditinggalkan untuk referensi kontemporer apapun.

Film hitam putih yang disutradarai oleh Jim Jarmusch telah mempengaruhi fotografer mode Jerman Peter Lindbergh, seperti foto-novel telah mempengaruhi William Klein beberapa saat sebelumnya. Banyak praktisi Eropa muda – Paolo Roversi, Martine Sitbon dan Javier Vallhonrat – telah terinspirasi oleh penemuan yang tidak terkendali dalam video musik, dengan warna-warnanya yang berani, skema-skema mimpi, dan potongan yang bearni. Di sisi lain, Nick Knight telah memperpanjang tradisi Erwin Blumenfeld, bereksperimen dengan warna dan rafis untuk menghasilkan gambar dari kesempurnaan formal yang luar biasa. Di tahun 1997 Presiden Bill Clinton memperingatkan fotografer dan editor mode karena mengembangkan kebudayaan obat-obatan dengan gambar mereka dalam gaya yang diberi julukan ‘heroin chic’.

Film

Ada banyak jenis film: film akromatik, untuk cetakan kertas positif hitam putih yang dibuat dari sebuah negatif; film warna negatif dan film warna berkebalikan (Agfachrome, Ektachrome, Fujichrome, Kodachrome, dll), untuk transparansi positif. Mereka semua terdiri dari dukungan lembut yang dilapisi oleh emulsi yang sensitif terhadap cahaya, dan semuanya dapat digunakan untuk fotografi sebagaimana untuk film. Sebuah film dijelaskan dengan sensitivitasnya terhadap cahaya, yang menentukan keabu-abuan dan kontras dari hasilnya. Sensitivitas film diukur menurut sebuah formula yang ditentukan oleh the International Organization for Standardization: lebih tinggi angka ISOnya, maka akan lebih sensitif (dankarena itu lebih cepat) filmnya – film ISO 400 dua kali lebih cepat daripada ISO 200. Lebih tinggi sensitivitas filmnya, maka akan lebih bayak mengandung butiran garam perak, yang berarti lebih cepat filmnya akan menghasilkan gambar yang lebih abu-abu.

Kodak dan Fuji berkolaborasi dalam jenis film baru, diperkenalkan di tahun 1996, dikenal sebagai Advanced Photo System (APS). Menampung dukungan berbasis perak tradisional (walaupun dibuat dari polyethelene naphthalate sebagaimana beekebalikan dengan seluloid triasetat yang digunakan dalam film konvensional)) juga dilengkapi dengan alur magnetik kecil yang merekam informasi fotografer tentang material yang digunakan, mengidentifikasikan atribut (tanggal, ruang, subjek), instruksi mengenai perkembangan film dan koreksi yang diperlukan untuk pencetakan ulang di masa mendatang, dan lain lain. Lebih penting lagi, ia memungkinkan bagi sebuah scanner untuk merekam pembukaan dalam bentuk digital secara instan. Format baru ini 40% lebih kecil daripada film konvensional – 17 x 30 mm, dibandingkan dengan 24 x 36 mm/

Film und Foto

Dikenal sebagai Fifo, sebuah pameran yang berjudul Film und Foto diselenggarakan di Stuttgart, Jerman antara 18 Mei – 7 Juli 1929. Ini dimengerti oleh Deutscher Werkhund (sekelompok arsitek dan desainer Jerman yang aktif sejak tahun 1907 dalam mempromosikan desain yang lebih baik) sebagai sebuah panorama internasional dari fotografi modernist tahun 1920an dari Eropa dan Amerika Serikat. Berjangkauan jauh dalam pemilihannya, pertunjukkan mencampur fotografi avant-garde dan photomontage dengan shot publisitas, fragmen film, pekerjaan ilmiah dari radiografi sampai pandangan astromonik, dan fotografi industri. Mahalah Kunstblatt mengumumkan: “Pameran ini akan membawa bersama karya pertama kali dari orang-orang ini, di rumah dan di luar negeri, yang telah memecahkan jejak baru dalam fotografi sebagaimana dalam film.. Sebagai tambahan adalah produksi yang luar biasa dari fotografer anonim baru dari seluruh dunia dan fotografi dari beragam area teknologi dan ilmu pengetahuan.” Secara efektif kematian berbnyi pada Pictorialisme dan pendakatan imitasi seni lainnya dalam medium. Fifo adalah sebuah manifesto dalam kemurahan yang disebut Fotografi Baru, khususnya dalam dua kecenderungan yang dikendal sebagai Visi baru dan Neue Sachlichkeit.

Pameran ini dipikirkan oleh Laszlo Moholy-Nagy, yang menginstall galeri perkenalan dan mengatur ketiga belas ruangan lainnya menurut kebangsaan, teknik atau afiliasi sekolah dari partisipan. Tiga kurator memilih karyanya yang akan dipamerikan dari kelompok yang dipilih oleh sebuah komite internasional, dimana banyak dari anggotanya merupakan fotografer yang unggul: Edward Wenston dan Edward Steichen dari Amerika Serikat, mungkin Man ray dan Christian Zervos dari Perancis, dan El Lissitzky dari USSR (pameran Soviet termauk Gutsav Klucis dan Alexander Rodschenko).

Dalam seluruhnay, pekerjaan oleh lebih dari 150 fotografer dipamerikan. Beberapa pekerjaan yang lebih lama dimasukkan (misalnya, pemandangan oleh Eugene Atget), tapi banyak dari partisipan adalha fotografer Jerman kontemporer: Willi Baumeister, Aenne Biermann, Max Burchartz, Hugo Erfurth, George Grosz, John Heartfield, Albert Renger-Patzsch, dan hampir semua dari kelompok Bauhaus. Sebagai tambahan untuk Steichen dan Edward Weston, kontingen Amerika termasuk Berenice Abbott, Anton Bruehl, Imogen cuningham, Paul Outerbridge jr., Charles Sheeler dan Brett Wenston. Fotografer Perancis adalah Florence Henri, George Hoyningen-Huene, Andre Kertesz, Germaine Krull, Eli Lotar, Man Rya, Maurice Tabard dan Maximilion Vox. Partisipan Inggris satu-satunya adalah Cecil Beaton. Seperti yang ditandai oleh judulnya, Film und Foto juga berhadapan dengan film. Dibawah pengarahan pembuat film avant-garde Jerman Haris Richter, enam puluh film diproyeksikan, dengan sutradara dari Charlie Chaplin sampai Rene Claie.

Pameran ini didukung oleh katalog yang termausk teks dalam fotografi dan film, terutama oleh Edward Weston dan Richter, sebagaimana duapuluh tiga reproduksi. Buku Fogto-Auge/Oeil et photo/Photo-Eye oleh Franz Roh, juga diterbitkan dalam kesempatan pameran ini. Versi dari pertunjukan ini melakukan perjalanan ke Zurich, Berlin, Vienna, Munich dan di tahun 1931 ke Jepang (Tokyo dan Osaka), menyebarkan gaya fotografi baru dan memfasilitasi penerimaannya dalam sebuah skala internasional.

Format

Format adalah istilah yang digunakan terutama untuk merancang dimensi film fotografi. Ini secara tradisional diukur dalam milimeter (24 x 26 mm), walaupun inci terkadang digunakan untuk film berformat besar (4 x 5 atau 8 x 10 inci). Pilihan dari sebuah fotmar film spesifik seringkali ditentukan oleh pertimbangan estetika: definisi persis yang merupakan karakteristik dari film berformat besar, misalnya membuat ideal untuk gambar yang statis dan deskriptif seperti yang diproduksi oleh anggota kelompok F/64. Sebaliknya, reportase dan Fotografi Jalanan telah tidak mungkin tanpa mobilitas yang ditawarkan oleh film dan kamera berformat kecil, yang diperkenalkan sekitar tahun 1920. Format juga menentukan bentuk dari gambar, ada format berbentuk persegi empat (misalnya 24 x 36 mm) seperti yang kotak (6 x 6 cm).

Sejak tahun 1888, ketika George Eastman menemukan kamera Kodaknya yang telah disederhanakan, Perusahaan Eastman (kemudian menjadi the EastmanKodak Company) telah berulangkali berusaha untuk menentukan standar industr baru: the Brownie (1900), the “126” (1961), the “110 (1972), the Disc (1982) dan the Advanced Photo System (1996). The “135” (24 x 36 mm, diperkenalkan di tahun 1923) masih tetap merupakan format yang sering digunakan,

Format juga digunakan untuk merancang ukurang dan bentuk cetakan. Banyak dari abad ini, dimensi cetak terbatas estetika ‘klasik’ yang berlaku untuk ukuran maksimum kertas fotografi – 19 ¾ x 23 5/8 inci ( 90 x 60 cm). Batas ini telah bercabang di tahun-tahun terakhir dengan pekerjaan berukuran besar pada skala yang mengingatkan pada lukisan yang berambisi, dibuat oleh fotografer seperti Jeff Wall dan Jean Marc Bustamante. Cetakan kolase besar oleh Doug dan Mike Starn juga menyinggung sejarah lukisan, model yang berjangkauan dari Rembrandt sampai Kazimir Malevich, Blue and Yellow Louvre Four mereka (1985 – 1988) berukuran 83 7/8 x 192 1/8 inci (213 x 488 cm). Cetakan fotografi sekarang juga monumental dalam ukuran, sebagaimana dalam diptych dan triptych Pascal Kern dari cetakan industrial yang difoto dalam ruangan dan dicetak dalam ukuran sebenarnya.

Frame

Dalam sebuah contact print, ukuran yang tepat dan perluasan gambar yang direkam dalam negatif yang asli dikumpulkan. Dengan pengenalan Pembesaran di sekitar tahun 1880, praktek pemotongan gambar menjaid meluas. Istilah frame mengarah pada batasan tentang apa yang direkam pada saat pembukaannya; ditetapkan oleh batasan fisik dari frame gambar kamera. Pemotongan mengacu pada operasi., setelah pembukaan dari batas pemotongan selektif dari gambar seperti yang diframe pada awalnya.

Dalam fotografi, komposisi menunjuk pada jelasnya organisasi dari elemen didalam frame sebelum pembukaan (estetika dari previsualisasi) selama pembukaan (momen penentuan Henri Cartier-Bresson), atau setelah pembukaan (melalui pemotongan, seringkali dikutuk oleh para pemurni). Dalam menentukan sebuah komposisi, fotografer memikirkan masalah seperti simetri versus asimetri sebagaimana tradisi visual yang diturunkan dari lukisan dan gambar.

Sebagaimana para modernis berusaha menjelaskan karakteristik yang spesifik dengan straight photography, dimulai di tahun 1920an, ia menjadi sebuah kewajiban moral untuk banyak fotografer (Walker Evans adalah pengecualian yang diingat) untuk mendapatkan gambar penuh dari negatif asli mereka. Sebagia hasilnya, cetakan fotografi “full-frame” seringkali menonjolkan pinggiran ihtam kasar yang menelusuri batas dari pembukaan aktualnya. Cartier –Bresson membuat inti dalam memasukkan batas ini dalam cetakannya, karena ia mencela pemotongan sebagai pengkhianatan dari pengalaman orisinil fotografer.

Futurisme dan Fotografi

Siapa. Anton Giulio Bragaglia dan Arturo Bragaglia, Tullio D’Albisola, Masoero, Bruno Munari, Vinicio Paladini, Ivo Pannaggi, Giulio Pariso, Tato.

Kapan. 1909 sampai 1929

Dimana. Italia

Apa. Di tahun 1909, penyair Filippo Tommaso Marinetto menerbitkan manifesto Futurist pertama – sebuah nyanyian pujian untuk mempercepat perkembangan teknologi, dimana mobil adalah gambaran dominannya. Di tahun 1910, manifesto kedua, ditulis oleh pelukis (termasuk Umberto Boccioni) memanggil para seniman untuk menggambarkan kembali kecepatan dan efeknya, dengan referensi terhadap kronofotografi dari Etienne-Jules Mare.

Keinginan ini untuk menyampaikan sensasi pergerakan adalah sebuah karakteristik yang menjelaskan Futurisme, dimana di tahun 1913 mendapatkan pengikut antara fotografer, terutama Anton giulio berusaha dan khususnya Arturo Bragaglia (yang telah akrab dengan kronofotografi). Di tahun yang sama, Anton Giulio Bragaglia, dalam manifestonya Fotodinamismo Futurista (fotodinamisme Futurist), menempatkan fondasi untuk sebuah pendekatan untuk “fotodinamisme” yang mengikuti contoh Marey, memecahkan pergerakan terhadap instan komponennya, dibawakan dalam bentuk yang kabur. Di waktu yang sama, para pelukis Futuris menggambarkan pergerakan dengan menggunakan garis kekuatan dalam sebuah cara yang diadaptasi dari lukisan Kubisme. Untuk pertama kalinya, para pelukis dan fotografer tertarik dalam menjawab pertanyaan formal yang sama: Bagaimana pergerakan dan kecepatan diterjemahkan dalam ekuivalen visual? Apakah cara formal ada yang khsusnya sesuai dalam pembentukan kehidupan modern? Menurut para Futurist, konvergensi dan fusi dari semua seni – literatur, fotografi , lukisan – menawarkan satu solusi yang mungkin.

Tidak sampai tahun 1920an dan pengaruh dari fotografi new vision diambil oleh fotografer Futurist dalam teknik Photomontage (Ivo Pannaggi, Vinicio Paladini), Double Exposure (Tato), Optical Distortion (Giulio Pariso), dan Aerial Photography (Masoero). Di saat itu, fotografi Futuris terlihat seperti sebuah usaha untuk menumbangkan realitas visual dengan menghadirkan sebuah cara yang tidak konvensional, dan ini menyamarkan fotografer yang terpengaruh dalam bekerja di konteks yang sangat berbeda, dari fotografer Bauhaus seperti T. Lux Feininger sampai fotografer New Vision.

Galeri

Ide dari memamerkan fotografi terjadi cukup awal: di London mereka didisplay dalam sebuah ruangan the Society of Art di tahun 1952, dan dua tahun berikutnya, di Paris, di Societe Francaise de Photographie. Penetapan dari masyarakat pameran – misalnya, the Photographic Society of Vienna (1861) dan the Photographic Society of Philadelphia, (1962) – membuat mungkin untuk menghadirkan fotografi dalam publik yang meluas. Pendukung dair naturalisme, pictorialisme, dan photo-secession ditentukan untuk memasukkan fotografi kedalam dunia seni, dan mereka mensponsori ruang pameran sebagai suatu hal dalam akhirnya. Di tahun 1905, Alfred Stieglitz, misalnya, membuka Little Galleriesnya untuk photo-Secession di New York, yang segera menjadi terkenal seperti 291 (setelah alamatnya di 291 Fifth Avenue). Galeri Julien Levy, juga berada di New York, adalah yang pertama di duni ayang diberikan secara eksklusif untuk fotografi, walaupun ia kemudian meningkatkan pameran untuk lukisan modern dan ukiran. Di Paris, Levy telah menemukan karya Eugene Atget dan Surrealist, yang kemudian ia pamerikan di awal 1931 (tahun dimana galeri dibuka), sebagaimana oleh Henri Cartier-Bresson, yang pertunjukkan tunggalnya di tahun 1932. Tapi inisitatif semacam ini terisolasi; masih tidak ada jaringan kerja galeri dan tidak ada pasar seni untuk fotografi.

Ini hanya di awal tahun 1960an bahwa jaringan seperti ini ulai muncul, pertama kali di Amerika Serikat (dimlai di Witkin Gallery di New York) dan kemudian di Eropa. Tmpat terjadi barunya memperkenalkan fotografi fine art, menjual print kuno dari fotografer terkenal dan kemudian menghimbau individual, museum dan institusi lain untuk mengkoleksinya. Diawali oleh tindakan yang sangat dipublikasikan dan meningkatnya harga, pasar fotografi meluas dengan cepat, dan hampir ada 700% peningkatan dalam pasar antara tahun 1975 dan 1991 (menurut Journal of Art tahun 1991). Galeri yang menjual cetakan fotografi mulai muncul di semua kota besar di Barat. Stimulus tambahan diberikan oleh osmosis antara fotografer dan seniman yang bekerja di media lain, sebuah fenomena yang menjadi umum yang dimulai di akhir tahun 1980an. Banyak galeri menspesialisasikan dalam lukisan menangkap momen ini untuk meminta – dan menerima – harga untuk karya fotografi yang bisa dibandingkan dengan lukisan.

Proses Perak Gelatin

Gelatin, yang menjadi pengikat penting untuk banyak emulsi fotografi, menempatkan sebuah tempat spesial dalam sejarah fotografi. William Henry Fox Talbot menggunakannya, dimulai di tahun 1839m untuk menangkap kertas garamnya. Richard Leach Maddox menyiapkan elatin pertama – emulsi bromid perak di tahun 1871. Di tahun 1880, perak gelatin telah menggantikan semua material lain untuk persiapan plat sensitif cahaya, khususnya negatif, dan telah tetap populer sejak saat itu. Proses perak gelatin, menggunakan kristal garam perak yang dimasukkan dalam gelatin, mengkombinasikan sensitivitas yang tinggi dengan kemudahan penggunaan yang tidak bisa disamai.

Tiga tipe dukunga telah digunakan dengan proses ini: plat kaca untuk negatif atau positif, dukungan yang lunak untuk negatif (diperkenalkan oleh Kodak di tahun 1889, dengan film nitrat seluloid) dan kertas untuk cetak positif: mereka semua dapat disimpan untuk periode yang lama tanpa kehilangan keefektifannya. Ditemukan di tahun 1873 oleh Peter Mawdsley, gelatin – kertas bromida perak digunakan terutama untuk ‘mengembangkan’, menggunakan produk kimia seperti sebuah pengembang untuk mengungkapkan gambar laten, daripada untuk ‘mencetak’ . Cetakan perak gelatin biasanya hitam netral (dengan variasi yang spesfik terhadap tiap merek), tapi corak warnanya dapat dimodifikasi dengan tonik. Sensitivitas dari perak gelatin membuat pembesaran mungkin tanpa kehilangan detail.

Graffiti

Ketertarikan fotografer dalam graffiti (sebuah kata Italia yang menunjuk pada tulisan yang ada di dinding – sebuah praktek yang kembali ke zaman purbakala) mendahului sebuah ketertarikan yang mirip oleh seniman seperti Jean Dubuffet di Perancis dan Antoni Tapies di Spanyol, sebagaimana oleh ‘seniman graffiti’ yang tidak terlatih yang berkarya pada dinding dan kereta bawa tanah menikmatinya di Amerika selama tahun 1970an akhir dan awal 1980an.

Dimulai di tahun 1920an, Walker Evans dan Berenice Abbott secara sistematis memfotografi graffiti, yang dipertimbangkan Evans sebagai seni vernakular yang juga termasuk tanda jalan, poster dan billboard – sebuah pandangan yang secara sempurna diekspresikan dalam gambarnya yang terkenal License Photo Studio (1934). Helen Levitt, yang memfoto graffiti di jalanan New York selama tahun 1930an akhir, mendekatinya dari perspektif yang lebih sosial, menekankan isi seksualnya dan kualitasnya seperti syair kasar dari anak jalanan. Fotografer urban dari tahun 1950an dan 1960an, seperti Lee Friedlander, William Klein dan Garry Winogrand, juga tertarik dengan graffiti.


0 Responses to “Sejarah Fotografi Mode”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


sohibrama@gmail.com

soekarno falls

More Photos
Internet Sehat

Pengunjung

  • 213,112 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS media ide periklanan

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita indonesia

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile

RSS bola

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS inggris

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id

%d bloggers like this: