05
Jan
09

Perang Iklan yang enggak Kreatif!@$#%

xl-voip

Keseharian kita sekarang ini nyaris tak bisa lepas dari gempuran iklan. Setiap hari, sejak bangun tidur pagi sampai menjelang tidur malam, kita hampir dapat dipastikan selalu bersinggungan dengan iklan berbagai macam produk. Siaran televisi yang kita tonton rata-rata menyusupkan iklan setiap 15 menit sekali, dalam program berita, sinetron, atau film. Dalam surat kabar dan radiopun tidak mau kalah dalam beriklan. Mungkin seringkali kita dibuat jengah, karena seringkali merasa proporsi tayangan yang kita tonton lebih sedikit daripada iklannya.Belum lagi dalam perjalanan kita ke kantor atau ke kampus, di sepanjang jalan, iklan-iklan berupa billboard, spanduk, baliho bertebaran bersaing menarik perhatian calon konsumen.

Terkadang iklan yang kreatif bisa menjadi hiburan bagi pemirsa tv. Namun belakangan, nampak mulai banyak iklan yang saling menjatuhkan produk yang sejenis dengan cara membandingkan dengan produk yang ada dalam iklan tersebut. Iklim persaingan bisnis yang sedemikian ketat, nampak jelas dalam iklan-iklan yang dikemas dalam bentuk iklan komparatif. Adapun yang dimaksud iklan komparatif di sini adalah mengiklankan suatu produk dengan mengidentifikasi produk atau jasa yang dimiliki pesaing, baik secara eksplisit maupun implisit. Kendati dikemas sedemikian rupa, namun konsumen masih bisa dengan jelas mengetahui produk apa yang dibandingkan. Secara bisnis hal ini tentunya menjadi sebuah persaingan yang tidak sehat. Demikian juga iklan komparatif ini melanggar etika beriklan yang sudah diatur dalam Tata Krama dan tata Cara Periklanan Indonesia Bab II B No. 3 Ayat b yang berbunyi: ”Iklan harus dijiwai oleh asas persaingan yang sehat. Perbandingan tidak langsung harus didasarkan pada kriteria yang tidak menyesatkan konsumen”. Selain itu juga telah diatur dalam Bab II B Ayat c yang berbunyi ”Iklan tidak boleh secara langsung ataupun tidak langsung merendahkan produk-produk lain” dan Bab II B No. 1 Ayat a yang berbunyi: ”Iklan tidak boleh menyesatkan, antara lain dengan memberikan keterangan yang tidak benar, mengelabui dan memberikan janji yang berlebihan”. Lagipula seharusnya para kreator iklan sudah menyadari bahwa proses kreatif yang bagus dalam iklan adalah pihak yang menjadi pesaing tak akan merasa sakit hati ketika produknya disinggung walau secara tak langsung.

Namun agaknya, etika beriklan yang ada kurang diindahkan oleh sebagian produsen maupun para pembuat iklan. Sangsi yang sedemikian longgar dan penegak etika beriklan yang memang kurang tegas, membuat iklan-iklan yang sejatinya melanggar etika periklanan tetap bisa tayang di media massa. Lihat saja fenomena perang iklan yang nampak jelas terjadi pada iklan-iklan operator seluler. Operator seluler yang satu menggempur operator yang lain. Tak mau kalah, pihak operator lain pun menjatuhkan pesaingnya dengan menyajikan data yang lebih berani. Beberapa pelanggaran yang lain selain iklan komparatif adalah data yang sangat minim yang dicantumkan pihak operator dalam tayangan iklannya. Kalaupun ada syarat dan ketentuan berlaku, namun itu hanya dimuat dalam waktu yang sangat singkat dan dalam komposisi yang sangat kecil sehingga kemungkinan konsumen tidak menyadari adanya syarat dan ketentuan yang berlaku seringkali membuat konsumen merasa dibohongi. Promosi yang dilakukan operator seakan-akan menjanjikan tarif seluler yang murah, namun sudah banyak konsumen mengeluh bahwa data yang disampaikan dalam iklan tidak lengkap atau kurang jelas. Hal demikian membuat pihak operator itu dapat dianggap melakukan pembohongan publik akibat iklan yang dibuat.

Kita selaku konsumen pengguna seluler seringkali tidak memperhatikan kelengkapan kata, simbol, dan kalimat yang ditonjolkan dalam iklan operator sehingga tidak dapat mengetahui dengan jelas layanan yang dipromosikan itu. Yang kemudian terjadi adalah kita merasa tertipu dengan iming-iming tarif murah karena tidak mengetahui syarat dan ketentuan yang diberlakukan pihak operator.

Di lain pihak, perusahaan operator tidak mau disalahkan karena merasa sudah memberikan keterangan mengenai syarat pemberlakuan tarif. Memang kalau diamati lebih teliti, apa yang disampaikan pihak operator tidak salah. Namun mereka harus mengakui bahwa penempatan tulisan yang kurang bisa terlihat, pemilihan besar kecilnya huruf jugalah yang menyebabkan konsumen merasa dibohongi karena tarif yang mereka lihat di dalam iklan tidak sesuai dengan tarif iklan sesungguhnya setelah disesuaikan dengan syarat-syarat dan ketentuan yang ada.

Banyak pro dan kontra dalam menanggapi masalah iklan komparatif ini. Dari sisi persaingan bisnis, iklan yang membandingkan produknya dengan produk kompetitor dianggap wajar sejauh tidak menyebutkan nama kompetitor secara blak-blakan. Karena memang dunia bisnis sangat ketat persaingannya, sehingga produsen dan kreator iklan merasa bahwa sah-sah saja ketika mencoba menarik perhatian konsumen dengan menonjolkan kelebihan produknya dan membandingkan produk kompetitornya. Dari pihak PPPI yang berwenang menegakkan Etika Periklanan Indonesia (EPI), juga masih belum satu suara dalam menetapkan apakah sebuah iklan itu masuk dalam kategori komparatif dan melanggar EPI ataukah masih masuk dalam kategori yang wajar. Etika beriklan fleksibel ini semakin digunakan oleh pihak produsen dan pembuat iklan untuk berdalih, walaupun mereka memang membandingkan dengan produk lain yang sejenis toh tidak menyebutkan merek. Dalih ini memang tidak salah, namun penampakan berupa bentuk dan warna produk pesaing sudah cukup memberitahu konsumen bahwa produk tersebut sedang membandingkan diri dengan produk yang mana.Sedangkan konsumen yang merasa dirugikan dengan iklan komparatif yang berdampak pada ketidakakuratan data yang disajikan dalam iklan merasa bahwa sudah waktunya iklan-iklan komparatif seperti ini tidak lagi ditayangkan. Dalam beberapa kasus, memang sudah ada iklan yang diperkarakan, mulai dari tidak boleh tayang di media massa dan ada juga yang sampai ke meja hijau karena pihak kompetitor yang produknya dibandingkan menuntut secara hukum. Namun hal tersebut rupanya belum cukup untuk mengurangi iklan-iklan yang bersifat komparatif dan mengelabui konsumen.

Dalam beberapa riset periklanan ditemukan bahwa iklan komparatif sebenarnya dianggap tidak terlalu efektif. Hal ini dikarenakan iklan komparatif kurang dapat dipercaya. Bagaimanapun konsumen sudah sedemikian jeli dalam memilih produk yang akan dikonsumsinya (walaupun tidak dipungkiri masih ada saja yang terkecoh dengan iming-iming iklan yang mengklaim produknya lebih unggul dari pada produk lain yang sejenis). Konsumen yang sudah loyal dengan produk tertentu biasanya akan lebih memilih produk yang biasa dikonsumsinya daripada mencoba-coba produk baru yang belum pasti benar-benar lebih unggul dari produk yang sudah lama dikonsumsinya.

Iklan yang kreatif, harusnya dapat memikat hati konsumen untuk mengkonsumsi produknya dengan cara-cara yang menarik, santun, tidak membodohi, tidak membohongi, dan tentunya dapat menunjukkan kelebihan produk tanpa harus membandingkan apalagi dengan cara menjatuhkan kompetitornya. Ke depannya, keberadaan iklan komparatif ini memang layak untuk disoroti bersama, baik dari pihak produsen, pembuat iklan, PPPI, maupun masyarakat yang menjadi konsumen, agar tidak ada yang merasa dirugikan atau dibohongi.


4 Responses to “Perang Iklan yang enggak Kreatif!@$#%”


  1. January 5, 2009 at 2:55 am

    Memang kadang iklan sekarang ini di nilai tidak wajar, dan di luar pemikiran kita. Seperti iklan XL yang menampilkan Simpanse yang dianggap sebagian orang melecehkan martabat manusia. tapi ada juga yang iklan menarik dan membuat selalu teringat terus, tapi untuk membuat iklan seperti itu memang sulit juga.

  2. January 5, 2009 at 3:20 am

    Orientasinya sudah uang melulu. Padahal iklan itu sebagai salah satu cara untuk mengenalkan produk dan menanamkan merek di benak konsumen. Mereka rela mengumpulkan uang dengan cara yang tidak elegan dan menjatuhkan.

  3. March 31, 2009 at 4:57 pm

    kalau kaya gini konsumen yang dirugikan dunk?

    rama said:
    waduh…kayaknya iyah-yah…abis mau gimana lagi ruang publik kita terbatas yah…

  4. March 16, 2011 at 1:57 am

    ********* bintang2nya banyak, hati-hati kalo ada banyak bintang harus di baca dengan teliti ketentuanya banyak (yon506@ymail.com)

    rama said : oke deh…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


sohibrama@gmail.com

soekarno falls

More Photos
Internet Sehat

Pengunjung

  • 213,236 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS media ide periklanan

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita indonesia

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile

RSS bola

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS inggris

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id

%d bloggers like this: