28
Jul
08

Fantasi Sang Manusia Iklan

Majalah Smart: The Spirit of Muslimah. Edisi 6/Ramadan 1426 H

 Kenapa sih sebagian besar iklan mesti ada perempuannya? Mungkin di antara kita pernah dengan “iseng” bertanya demikian. Bagi Rama Ahmad, seorang praktisi periklanan, jawabannya adalah karena perempuan memang sesuatu yang indah. Maksudnya, pada umumnya penentu kebijakan membeli barang itu laki-laki, karena yang bekerja laki-laki. Suatu ketika, lanjut Rama, demikian ia biasa dipanggil, “Laki-laki melihat iklan dan tertarik pada suatu produk, kemudian dia bilang ke istrinya, “Eh, beli produk itu dong.” Dan mungkin ketertarikan laki-laki itu justru karena sosok perempuannya, padahal itu hanya salah satu unsur dari banyak unsur yang ada di iklan.” Alias, penghadiran perempuan dalam iklan itu disengaja!

 

Segmentasi

Tunggu dulu, jangan menduga yang negatif dulu. Menurut Rama, yang juga dosen di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta, sebenarnya yang jadi permasalahan bukan apakah laki-laki atau perempuan yang ada di iklan. “Yang bermasalah adalah tema dari iklan tersebut. Misalnya iklan IRMA, meskipun tanpa ada visualisasi tentang hubungan suami istri, tapi yang jadi masalah adalah soal persepsi. Persepsi wanita di sana, yang akhirnya konsepnya adalah merendahkan wanita itu sendiri. Jadi temanya yang salah. Sedang wanita dalam iklan motor MIO kan ga bermasalah, atau produk susu, karena temanya sendiri ga lari ke pornografi,” papar Rama.

Rama memberi contoh lain. “Misalnya iklan cream pembesar payudara, itu iklan sebenarnya ga bermasalah kalau iklan itu dihadirkan ke audiens yang benar. Jadi gini, ketika kita membuat iklan kita harus tahu segmentasi pasar, berarti kita membuat batasan-batasan dalam iklan kita. Jadi ketika kita menempatkan iklan itu di suatu media kita tahu audiens kita siapa. Nah, iklan cream itu kan ditaruh di siang hari yang anak-anak masih melihat. Coba itu ditempatkan pada jam 8 sampai 10 pagi, konsumsinya kan gitu ya. Jam 8 sampai 10 kan, kecuali orang nganggur lho ya, anak sekolah masih sekolah, bapaknya pergi, yang di rumah kan biasanya ibu rumah tangga.”

Jadi, simpul Rama, sosok perempuan dalam iklan dianggap bermasalah karena beberapa faktor, yang pertama karena faktor tema, terus kostumnya, dan penempatan di media apa. Kalau di Amerika Serikat iklan-iklan seperti itu dibatasi. Mereka dipasang hanya ditempat-tempat hiburan, klub kebugaran dan semacamnya. Begitu juga di Eropa yang segala sesuatu ada aturannya. Di sana, misalnya iklan yang membuka dada, membuka aurat, itu ada aturannya di tempatkan di media apa. Dia bisa ditempatkan di media tersebut, dan ketika melenceng dia langsung dihukum. Sayangnya di Indonesia iklan seperti itu ditaruh di mana saja.

Pendapat Rama diamini praktisi periklanan yang lain, yaitu Hardoyo. Menurut lelaki yang telah menekuni dunia periklanan selama sembilan tahun ini, tidak seharusnya produk yang diperkenalkan lewat iklan kepada masyarakat mesti menampilkan sosok wanita dewasa sebagai objek. “Menurut pendapat saya iklan biasanya dibuat sesuai dengan pasar yang dituju, tidak menutup kemungkinan produk-produk yang ada saat ini lebih banyak ditujukan untuk kaum perempuan,…dengan menampilkan sosok wanita dalam sebuah iklan akan lebih banyak peminatnya dibanding sosok pria,” ungkap Hardoyo.

Pendapat serupa dikemukakan juga oleh Indiria Maharsi, seorang dosen sekaligus desainer sebuah biro iklan. Menurut Indi, demikian ia biasa disapa, iklan tidak mesti menghadirkan sosok perempuan, tergantung dari jenis produk—untuk siapa produk tersebut, dan pendekatan kreatif apa yang dipakai. “Kadang ada juga iklan yang menghadirkan “kejantanan”, “maskulin”-nya seorang lelaki. Nggak melulu “keseksian” wanita, malah ada iklan tertentu yang menghadirkan wanita sebagai sosok yang terhormat, ibu rumah tangga…Jadi menurut saya, iklan itu bermacam-macam. Semakin banyak “sisi” yang tampil kan semakin menarik,”demikian Indi.

 

Pornografi?

Mungkin kita pernah mendengar ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau bahkan menduga sendiri bahwa banyak iklan yang mengandung unsur pornografi. Tentang hal itu, Rama justru balik bertanya: contohnya iklan yang mana? Menurut bapak yang aktif di dua ormas Islam terbesar ini, sekarang sudah jarang kita temui iklan mengandung unsur pornografi. “Sekarang main tema saja, kreativitasnya di situ. Orang yang umurnya belum sampai mungkin tidak akan berpikir itu. Tapi kalau sudah sampai ya dia sudah tahu. Anak kecil kan bingung IRMA itu maksudnya apa. Kan banyak kejadian gitu, “Ma, itu artinya apa to?” Yang bagus itu ya begitu ga langsung menohok ke visual. Cuma IRMA itu memang ada visualnya,” jelas Rama.

 

Kemudian Rama melanjutkan, “Kalau ada yang bilang ada iklan baju dalam wanita, kan iklannya ada di majalah wanita ya. Sama-sama punya kok bingung, ya to. Yang salah kita yang laki-laki, kenapa lihat-lihat majalah wanita. Jangan terus ada majalah wanita, ada gambar pake bikini kita terus protes. Lucu, iya to…Ini segmentasi pasar majalah wanita, ga masalah to. Tapi ketika yang membaca bapak-bapak karena tertarik lha itu yang salah. Itu porno! yang porno kamu itu, bukan segmennya. Kalau tidak pada segmennya, atau media yang tidak bersegmen kayak televisi nah itu baru masalah.”

 

Jadi, menurut Rama, sekarang iklan yang porno sudah di-cut. Dia memberi contoh, jam delapan pagi sampai delapan malam itu sudah sulit ditemukan ada iklan yang porno. Porno di situ maksudnya dalam arti “bupati” (buka paha tinggi-tinggi,-red). Produsen iklan di negeri ini tergabung dalam wadah yang namanya P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia). Di sana itulah, tegas Rama, ada aturan Tata Krama etika periklanan. Ada aturan wanita tidak boleh ditampilkan begini-begini. Tapi memang masalahnya ada aturan biasanya untuk dilanggar, kemudian ada yang “mencuri-curi”, mungkin secara tema.

 

Jadi begini, jelas Rama lebih lanjut, “Yang jahat dalam diri manusia itu kan fantasi. Walaupun orang tertutup bagaimanapun ketika ia diberi fantasi sedikit dia akan melambung. Nah, itulah yang dipakai orang iklan sekarang. Kayak IRMA itu, dia hanya menyuntikkan fantasi, kan yang lari pikiran kita. Jadi sekarang yang pornografi itu ga ada. Cuman di media cetak yang “kuning” itu memang banyak, iklan-iklan grafis ya bukan iklan-iklan visual. Kalau kita lihat majalah-majalah misteri yang depannya saja sudah gitu, dalamnya porno-porno.”

 

Legalitas dan Kreativitas

Ada yang harus segera diluruskan ketika membicarakan iklan. Hal yang paling mendasar yang harus dimengerti, menurut Rama, adalah bahwa semua orang diciptakan sebagai manusia iklan. Anda ingin mendapatkan jodoh harus mengiklankan diri. Jadi ada orang yang membuat iklan sendiri, tapi ada orang yang membuat usaha kemudian meminta orang untuk membuat iklan, jadi sifatnya legal. Jadi dia mengiklankan lewat media pihak lain, dan itu tergabung dalam wadah persatuan, konsorsium dan ada aturannya yang jelas. Nah, yang kita bicarakan, menurut Rama, adalah iklan yang legal yang dibuat oleh konsorsium itu yang sudah ada tata etikanya, dan bersifat mengikat karena dia untuk perusahaan iklan yang resmi.

 

Hanya saja memang tidak semua perusahaan periklanan tergabung dalam Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Menurut A perbandingan antara yang tergabung dengan yang tidak adalah sekitar 70:30. Itu pun “diperparah” lagi dengan tidak adanya undang-undang yang khusus tentang periklanan. Sehingga aturan etika dan tata krama periklanan P3I hanya mengikat perusahaan resmi yang tergabung saja. P3I akan menegur atau bahkan mengeluarkan anggotanya yang melanggar atuarn main. Sementara mereka yang tidak tergabung diatur oleh norma masyarakat. Jadi, kalau tidak sesuai dengan norma masyarakat, dia bisa disomasi masyarakat.

 

Pihak praktisi periklanan sebenarnya sudah beritikad baik. Jadi, menurut Rama, “Kita (praktisi periklanan,-red) hanya bisa menghimbau. Jadi kayak kemarin pas musyawarah kerja di Bandung kita memberi masukan ke DPR. Tapi keputusannya kan tetap di Presiden dan DPR. Sehingga kasarannya kita yang di konsorsium atau P3I akan menghukum keras (mereka yang melanggar,-red).” Kalau boleh mencari yang salah, Rama akan mengatakan pemerintah secara keseluruhan. Dalam hal ini mungkin menteri komunikasi dan informasi. “Karena dia yang mengurus itu semua. Pemerintah kan menata, orang kalau beriklan lewat sini lho, ga bisa kalau buat iklan ga lewat sini. Di Indonesia kan ga ada.”

 

Bagi sebagian pihak di masyarakat peraturan di bidang periklanan itu mungkin dipahami sebagai pembatasan dan pelanggaran kebebasan berekspresi. Tapi bagi Rama tidak selalu harus dipahami demikian. Dia mencoba membuat perbandingan antara Indonesia dengan Malaysia. “Sering orang Indonesia itu mengklaim bahwa orang Indonesia itu lebih kreatif daripada orang Malaysia, tapi kenyataannya tidak. Penghargaan-penghargaan internasional (di bidang periklanan,-red) lebih sering orang Malaysia dibanding orang Indonesia. Pertanyaannya: kenapa?”

 

Jawaban dia cukup mengejutkan: justru karena ada batasan! Orang, menurut Rama, kalau dibatasi, ide kreatifnya akan muncul macam-macam, berbeda dengan orang yang dilepas bebas. “Kenapa, sekarang saya tanya, Siti Nurhaliza konsep yang dia jual tertutup, badannya terbungkus rapih. Tapi ketika, dia tur ke mana-mana ga tau tu penontonnya berjubel. Sekarang Krisdayanti, mau konser di Singapura, mau buang duit to bukannya cari uang. Tapi orang bilang kreatif mana Krisdayanti dengan Siti Nurhaliza, Krisdayanti yang kreatif. Padahal, sekarang kita lihat penghargaan iklan Asia Pasifik kemarin, (Indonesia,-red) ada yang menang ga? Kita cuma dapat satu atau dua, tapi Malaysia banyak, padahal tata aturan periklanan di sana lebih jelas lagi!”[] bowo sugiarto.

 


0 Responses to “Fantasi Sang Manusia Iklan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


sohibrama@gmail.com

soekarno falls

More Photos
Internet Sehat

Pengunjung

  • 213,112 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

July 2008
M T W T F S S
« Jan   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS media ide periklanan

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita indonesia

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile

RSS bola

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS inggris

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id

%d bloggers like this: