14
Jul
08

Jogja Visual Abis

Tulisan ini adalah suatu refleksi atas dua atmosfer berbeda yang penulis tangkap di daerah sepanjang jalan dari rumah ke kantor, route yang panjangnya kira-kira 8 km, dari Sidoarum ke Suryodiningratan di Yogyakarta. Yang pertama adalah fenomena visual yang terbentuk dari berbagai tanda yang ternyata punya kesamaan pola dengan daerah-daerah lain yang membentuk perwajahan daerah urban di Yogyakarta. Kedua adalah pengalaman berkunjung dan mengamati studio dari sejumlah seniman yang juga tinggal di wilayah itu, terutama seniman yang menawarkan cara pandang yang khas dan didasarkan pada insight-nya.  

            Hampir setiap kali pergi dari rumah ke kantor atau sebaliknya, selalu saya lewati pola pengalaman yang kurang-lebih sama. Kebisingan dan kepadatan kendaraan bermotor yang merambat ke mana-mana, begitu terasa, dan senantiasa meningkat intensitasnya. Keadaan macam ini kurang-lebih serupa dengan apa yang terjadi di berbagai kota besar di Nusantara, dimana realita jalan raya dan tampilan di kiri-kanannya semakin miskin dari hijaunya tetumbuhan. Pohon-pohon perindang jalan hanya dilihat sebagai sumber dedaunan sampah, atau dipandang sebagai penghalang jaringan listrik dan telefon. Peran mereka sebagai penyedia oksigen tak terlihat. Rasa dan rupa daerah perkotaan terbentuk dari nama-nama toko, perusaaan, usaha, berbagai macam lembaga, dan image-image dari berbagai billboard iklan yang saling bersaing. Gaya hidup modern, mewah, atau populer diobral, menjanjikan kemudahan bila mengomsumsi suatu produk atau bisnis tertentu. Tampilan fisiknya dan suasananya kurang lebih sebagai berikut ini.

            Kios-kios telefon cellular, pulsa, dan wartel bertaburan di mana-mana, dengan asesori dan tampilan nan seragam. Tak mau ketinggalan adalah toko kecil bereretalase mungil di sejumlah tempat, namun dengan papan nama besar menawarkan obat kuat yang diimpor dari China. Para pengemudi mobil dan motor ‘bermurah hati’ dalam mengklakson. Bertaburan di mana-mana kata-kata plesetan dan umpatan dari stiker pada ‘helem-helem’ pengendara sepeda motor, dan pada disain-disain T-Shirt yang dengan tenangnya dipakai. Warung-warung jualan makanan-makanan instan, dari yang franchise  sampai yang kelas ‘teri’ yang bahan-bahan dan saus-saus penyedapnya adalah produk industri massal. Ruko-ruko yang seragam dibangun di banyak tempat, berdempet-dempetan. Bermunculan salon-salon yang menawarkan berbagai parawatan kulit dan rambut namun dengan produk-produk industri massal yang berskala nasional maupun multi-nasional. Secara dominan dan agresif terpampang iklan-iklan dari sejumlah perusahaan rokok bermodal besar, dan produk-produk industri modern, yang dihadirkan dalam berbagai billboard berukuran raksasa, baik yang dipasang di sisi jalan atau yang memotong jalan raya, pada malam hari disoroti cahaya ribuan watt. Bergulir gaya-gaya pakaian dan tampilan yang polanya mirip, apakah yang berbasis religius, atau yang sekular populer – jeans ketat yang atasnya hanya menutupi separuh pinggul dengan pusar terlihat. Perempuan-perempuan berambut pirang juga bermunculan, dengan cat rambut produk import, seakan mengatakan bahwa yang cantik dan trendy adalah yang berambut pirang.

            Di balik itu semua, sebenarnya, telah bekerja dua kuasa besar: liberalisasi ekonomi dan media. Kuasa pertama melabrak berbagai tatanan budaya yang tidak progresif, padahal yang tidak progresif itu tidak berarti salah atau keliru – misalnya budaya berfikir dengan hati dan rasa. Kuasa kedua cenderung mengangkat dan memosisikan ide-ide dan image-image tertentu, terutama dari sejumlah kecil pemilik modal dan pelaku-pelaku bisnis multi-perusahaan, namun pada saat yang sama sangat kritis terhadap apa-apa yang berasosiasi dengan pemerintah yang meregulasi untuk kepentingan banyak orang dan kelompok, atau terhadap pola laku yang dipandang sebagai ortodoksi budaya yang dianggap menghambat aliran dan akselerasi pertumbuhan modal. Kedua kuasa itu bekerja sama membentuk kehidupan masyarakat banyak, dan secara langsung maupun tidak mengondisikan pemunculan berbagai elemen yang membentuk realita jalan raya. Inilah modernitas atau realita kehidupan yang kita impikan?

            Rasanya hidup ini gersang dan dangkal bila kita hanya terpaku dan melulu mengikuti  apa-apa yang tergelar di ruang publik daerah perkotaan. Apalagi kalau realita macam ini hanya dilihat secara linear dan disikapi secara konsumtif. Menghadapi kenyataan ini kita harus berani menyempal dan melihat apa-apa yang hidup di balik keingar-bingaran, glamoritas, dan modernitas. Kuncinya hanya pada kemauan untuk mengamati dan masuk ke lapisan-lapisan realita yang telihat, terasakan, dan yang bisa dibayangkan.  Dalam kondisi lingkungan seperti yang terpaparkan tadi,  terasa semakin pentinglah karya-karya seni dan pendekatan estetis yang menyediakan ruang-ruang imajiner untuk dirasakan dan dinikmati secara mat-matan. Sebagai contoh, saya petikkan pengalaman mengunjungi beberapa studio dan dunia seni dari sejumlah seniman yang tinggal di seputar route yang saya lewati. Banyak dari mereka yang menganyam jalan sendiri, dan tidak mau mengikuti trend-tren populer yang dihembus-hembuskan oleh media. Mereka (pinjam ungkapan Dwi Laksono) berani ‘menge-nol-kan’ kekuatan eksternal yang terlalu dominan, dan tidak mau terpancang pada wacana sejarah dan kuasa dari narasi-narasi besar yang mendominasi dunia intelektual dan akademis seni.

            Sutopo, pelukis pemandangan yang telah bekerja dengan gaya khusus sejak akhir 1970-an, ia mengabstraksi landskap alam dengan pepoponan, rerumputan, air yang tenang membiru, burung-burung bangau, dan pegunungan. Hobinya mendatangi daerah-daerah perbukitan dari mana ia bisa secara langsung melihat hamparan alam yang luas, tempat ia bisa hadir dalam rasa dan pikirannya dalam keterhubungannya dengan alam. Karya lukis Sutopo menawarkan suatu estetika yang lain. Sayang sekali, wacana dan trend intelektualitas seni tidak memihak ke karya-karya semacam itu. Ia adalah salah satu dari banyak seniman yang terpinggirkan akibat stigmatisasi “Mooi Indies” yang rupanya telah dipakai secara eksesif dan mebabi-buta, sehingga potensi dari genre lukisan pemandangan macam karya Sutopo tidak terlihat penting untuk diamati. Padahal kalau kita mau secara mental masuk ke dalam fenomena seni yang lain, dengan mata segar, kita akan mendapatkan banyak insight dan estetika-estetika lain yang tak kalah menarik.

            Tidak jauh dari studio Sutopo, di daerah Sonopakis, ada sebuah warung soto Jawa Timur yang dikelola oleh keluarga Widodo – pelukis yang suka mengangkat subjek tentang hubungan intim pria-wanita. Ia berkarya menurut rasa dan mimpinya sendiri, dan menyadari konsekuensi sosialnya. Sebenarnya subjek ini adalah perkara alamiah, namun menjadi perkara sosio-kultural bila dihadirkan gamblang via bahasa rupa. Makanya ia dan istrinya mendirikan warung soto untuk keberlangsungan finansial kelurganya. Beberapa karyanya dipajang di warung soto itu, dan menawarkan suatu atmosfer yang lain.

            Tak terlalu jauh dari sana juga tinggal seorang pematung yang sangat trampil mengolah drawing, tanah liat, dan bunyi untuk karya dua dan tiga dimensional, dan karya musiknya. Namanya Dwi Laksono. Ia telah menghasilkan dua album lagu-lagu keroncong yang dimainkan oleh Orkes Keroncong “Susah Tidur” yang dipimpinnya, dan oleh Orkes Keroncong “Sinten Remen” pimpinan Jaduk Ferianto. Dwi Laksono sadar dan menghargai adanya berbagai wacana dan trend seni kontemporer, namun ia memilih untuk menyoroti pengalaman-pengalaman nyata sehari-hari yang dilewatinya, dari mana ia memperoleh hikmah untuk dinyatakan melalui karya-karyanya yang selalu dimuati kegembiraan dan rasa syukur yang benar-benar dirasakan.

             Menarik pula mengunjungi studio Lelyana – perupa yang berkarya dengan media lukisan dan keramik – di daerah Nitiprayan. Ia punya kebebasan dalam memilih gaya hidup yang bersahaja, komunitas, dan dunia kreatifnya. Karya-karya lukis dan keramiknya menawarkan karakter-karakter yang unik dan khas.

            Contoh-contoh diatas adalah hanyalah sampel kecil dari ruang-ruang hidup yang bisa dimasuki dan dieksplorasi di sepotong kecil wilayah di Yogyakarta, dan tentu saja terdapat di kota-kota lain. Untuk itu kesadaran budaya untuk membangun ruang-ruang mandiri perlu dihidupkan secara terus-menerus, sebagai alternatif dari ruang-ruang urban perkotaan yang kini telah begitu dikuasai oleh kapitalisme dan hegemoni media. Ruang-ruang alternatif itu menawarkan sub-ruang-sub-ruang, dan sub-sub-ruang-sub-sub-ruang lain untuk terus dimasuki dan dieksplorasi. Kuncinya adalah mengamati, dan mengamati lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi. Karena, sesungguhnya, realita itu baru ada ketika kita mengamatinya.

 


0 Responses to “Jogja Visual Abis”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


sohibrama@gmail.com

soekarno falls

More Photos
Internet Sehat

Pengunjung

  • 213,236 hits

butuh buku ini email ajah:

kontak online

Hidup…Kawanku

Assalamu'alaikum Wr Wb, kawan, tidak selamanya kehidupan ini sulit bila kau ditemukan dalam susah hati itu hanyalah kebetulan saja apabila kita ditemukan dalam keadaan gembira itupun hanya kebetulan saja hidup ini adalah sesuatu yang sementara kita dapat menjadi senang dalam suatu waktu dan kita bisa sedih dalam suatu waktu Wassalamu'alaikum

Biennale Jogja XI

telpon kita :

Call kawanrama from your phone!

Categories

July 2008
M T W T F S S
« Jan   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
PageRank

kunjungan

free counters

RSS media ide periklanan

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS berita indonesia

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Muka Pembaca

View My Profile community View My Profile View My Profile View My Profile

RSS bola

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS inggris

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
Yuk.Ngeblog.web.id

%d bloggers like this: