“Allah menciptakan skenario lain untukmu Ram…” ujar kawan sebelahku. Kata-kata itu seperti menohok ulu hati ini secara segera, ketika aku menceritakan masalahku pada dia.
Allah berkuasa atas kita, tetapi seringkali kita merasa kita yang menguasai diri kita sepenuhnya. Kita merasa yakin kemampuan berpikir dengan logika dan kemampuan fisik kita, dapat mengendalikan apa yang terjadi pada diri kita. Hari ini aku banyak melihat sesuatu hal yang sangat berkesan. Pertama, bagaimana cerita Mahasiswiku yang sedang berjalan ditabrak oleh seseorang yang mengendarai motor padahal dia berjalan di pinggir tetapi apakata… tetap saja ada roda motor yang berjalan tidak sesuai arah menuju dirinya, sehingga ia harus melangkang menggunakan tongkat karena sang roda telah menghantam kaki tercintanya. Kalau dipikir secara logika kan tidak mungkin ada roda yang sudah diarahkan…tau…tau berbelok arah ke pinggir karena sang pembawa motor ngantuk. Lalu ada Mahasiswa yang datang menghampiriku ingin menanyakan tentang sisi negatif dirinya dan menganggap diriku bisa memahami sisi negatif dirinya. Memang sih, ketika kuliah dulu aku banyak belajar tentang Psikologi hingga belajar tentang garis tangan seseorang dari seorang teman walau aku tahu banget (dan yang ini tak kupratekkan takut banget ama yang diatas) …Membaca garis tangan sebenarnya bagian dari tindakan syirik, yaitu meramal nasib. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah ‘arrafah. Perbuatan seperti ini secara aqidah tidak akan pernah dibenarkan, lantaran nasib dan taqdir setiap orang hanya ada di sisi Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, karena semua itu hal ghaib serta menjadi rahasia Yang Maha Kuasa…..
Mahasiswaku ini merasa yakin bahwa apa yang kukatakan itu benar adanya…padahal yang tahu diri kita ya…diri kita…(secara logika) lagi-lagi aku sadar di dunia ini tidak hanya logika yang turut masuk dalam konsep pemikiran. Tangan Allah pun berjalan atas hidup kita. Cintailailah dengan sangat tuhan kita itu dengan selalu memanggilnya tiap saat… agar kita dapat meminta yang diatas selalu memberi perhatian lebih pada diri kita. Siang itu, mahasiswaku kuberi motivasi yang lebih agar dia mengerti hidup bahwa hidup harus selalu menantang angin agar “Hidup ini lebih hidup…” Jadilah mutiara walau di hamparan lumpur…jangan larut olehnya.















0 Responses to “Siang yang mengkritik hidup :”